SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  SMCB Cetak Laba Rp101,89 Miliar di Q1 2026, Divide...

Finansial

SMCB Cetak Laba Rp101,89 Miliar di Q1 2026, Dividen Rp36,5 per Saham Siap Cair

PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) membukukan laba bersih Rp101,89 miliar di kuartal pertama 2026 di tengah tekanan biaya energi global, sekaligus mengumumkan jadwal pembayaran dividen Rp329,37 miliar dari laba tahun buku 2025.

SBI catatkan laba bersih Rp101,89 miliar pada kuartal I 2026

Sepanjang tiga bulan pertama 2026, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) membukukan laba bersih Rp101,89 miliar. Angka yang tidak main-main, mengingat industri semen sedang tidak dalam kondisi ideal: persaingan sengit, biaya energi naik, dan dinamika geopolitik yang belum juga mereda.

Pendapatan perseroan tumbuh 3,6 persen menjadi Rp2,56 triliun, ditopang volume penjualan semen dan terak sebesar 2,92 juta ton atau naik 1,4 persen dibanding kuartal I 2025. Yang lebih menarik: EBITDA melonjak 14,3 persen menjadi Rp358 miliar. Selisih antara pertumbuhan topline yang moderat dengan EBITDA yang melesat itu mencerminkan perbaikan efisiensi operasional yang nyata, bukan sekadar efek kenaikan harga jual.

"Result-nya sendiri dari sejak Q4 sudah kelihatan sebetulnya," kata Direktur Utama SMCB Rizki Kresno Edhie Hambali dalam paparan publik di Jakarta, Jumat. Bukan klaim tanpa dasar. Sepanjang 2025, SMCB membukukan laba tahun berjalan Rp658,7 miliar dengan EBITDA Rp1,87 triliun, fondasi yang cukup kokoh untuk menapaki 2026.

Di sisi operasional, transformasi digital menjadi salah satu pengungkit kinerja. Tenaga penjual dan distributor kini menggunakan sistem geo-coding saat mengunjungi toko, memungkinkan perseroan memantau posisi stok dan kondisi pasar secara real-time. "Sehingga intelijen kita terhadap market menjadi sangat tajam," ungkap Rizki. Agaknya bukan hiperbola, karena hingga April 2026 volume penjualan SMCB masih tumbuh sekitar 9 persen year-on-year.

Penerapan Advanced Process Control di pabrik turut menekan biaya produksi. Direktur Operasi Edi Sarwono menjelaskan teknologi ini menjaga stabilitas operasi sekaligus mendongkrak efisiensi energi, yang ujungnya bermuara pada cost of production lebih kompetitif.

Namun perseroan tidak menutup mata terhadap risiko. Direktur Keuangan Asruddin mengakui kenaikan harga bahan bakar akibat konflik geopolitik global mulai terasa di operasional sejak awal tahun. "Efek kenaikan BBM karena peristiwa geopolitik perang itu sudah mulai terasa di kita," ujarnya. Perseroan sudah menjalankan stress test dan mengidentifikasi titik-titik kritis yang perlu diantisipasi. Target mereka: menjaga margin profitabilitas di atas 6 persen sepanjang 2026. Klaim yang masih perlu dibuktikan konsistensinya di kuartal-kuartal berikutnya.

Sementara manajemen sibuk mengurus efisiensi, kabar baik juga datang buat pemegang saham. RUPST yang digelar 22 Mei 2026 menyetujui pembagian dividen sebesar 50 persen dari laba bersih 2025, setara Rp329,37 miliar atau Rp36,518 per lembar saham. Jadwalnya sudah terkunci: cum dividen di pasar reguler jatuh pada 4 Juni 2026, recording date 8 Juni 2026, pembayaran dilaksanakan 18 Juni 2026. Sisa 50 persen laba, sekitar Rp329,37 miliar, dialokasikan untuk mendanai kegiatan operasional perseroan.

Total ekuitas SMCB per akhir 2025 tercatat Rp13,2 triliun, dengan saldo laba ditahan tak terbatas mencapai Rp3,06 triliun. Ruang manuver yang cukup lega. RUPST juga mengesahkan pengangkatan kembali Yasuhide Abe sebagai direktur perseroan hingga penutupan RUPST 2031. Buat investor yang sudah nyaman pegang SMCB, dividen pertengahan Juni ini bisa jadi alasan tambahan untuk tidak buru-buru keluar.