KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Sidang Musk vs OpenAI: Altman Diserang dari Dalam,...

Bisnis

Sidang Musk vs OpenAI: Altman Diserang dari Dalam, Nadella Takut Jadi IBM

Persidangan Elon Musk melawan OpenAI memasuki minggu ketiga dengan kesaksian mengejutkan dari mantan CTO Mira Murati yang membongkar sisi gelap Sam Altman, sementara email rahasia Satya Nadella ungkap kekhawatiran Microsoft soal nasibnya sebagai mitra strategis.

Mantan Rekan Kerja Bongkar Sisi Gelap Bos ChatGPT

Tiga minggu persidangan, dan ruang pengadilan California itu sudah menyimpan cukup banyak drama untuk satu musim serial Netflix.

Minggu ketiga sidang Elon Musk versus OpenAI menjadi yang paling personal sejauh ini. Bukan soal angka ganti rugi USD 134 miliar yang dituntut Musk, bukan pula soal perdebatan teknis misi nirlaba OpenAI yang bergeser ke model komersial. Yang paling mengguncang adalah Mira Murati, mantan Chief Technology Officer OpenAI dan orang kepercayaan Sam Altman, yang berdiri di sisi berlawanan lewat kesaksian videonya.

Murati dengan lugas menyebut Altman sebagai pemimpin yang tidak bisa dipegang kata-katanya. Ia menggambarkan mantan atasannya itu kerap menyampaikan pernyataan berbeda kepada orang yang berbeda secara bersamaan. "Ia memiliki kecenderungan untuk menyampaikan satu pernyataan kepada seseorang, sementara di pihak lain ia memberikan informasi yang bertentangan," ungkap Murati dalam kesaksian yang dibacakan di hadapan dewan juri. Murati bahkan menyebut Altman suka "menimbulkan kebingungan" sebagai pola komunikasi yang disengaja. Bukan keceplosan. Pola.

Kesaksian ini bukan muncul dari ruang hampa. Tim hukum Musk memperlihatkan bukti percakapan teks antara Altman dan Murati pada November 2023, tepat ketika dewan direksi OpenAI secara mengejutkan memecat Altman, sebelum akhirnya mempekerjakannya kembali lima hari kemudian. Dalam situasi yang agaknya sangat panik, Altman mengirim pesan kepada Murati: "Bisakah kamu memberi sedikit petunjuk? Apakah semuanya akan berjalan baik atau sebaliknya?" Jawaban Murati tidak butuh waktu lama: "Arah yang diambil sangat salah."

Ilya Sutskever, salah satu pendiri sekaligus mantan Kepala Ilmuwan OpenAI, turut membenarkan narasi ini. Saat ditanya pengacara Musk, Steven Molo, apakah ia pernah menyatakan bahwa Altman memiliki "pola kebohongan yang terus-menerus, meremehkan para eksekutifnya, dan memicu perselisihan antar mereka," Sutskever hanya menjawab satu kata: "Ya."

Altman sendiri belum bersaksi. Dijadwalkan hadir langsung di pengadilan dalam beberapa hari mendatang, ia akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang, kalau data ini bisa dipercaya, tidak akan mudah dijawab. OpenAI dan Altman membantah keras semua tuduhan yang dibangun kubu Musk.

Di luar ruang sidang, giliran pengacara OpenAI yang menyerang. Mereka membeberkan pesan teks Musk kepada Presiden OpenAI Greg Brockman menjelang persidangan. Ketika Brockman menolak tuntutan perdamaiannya, Musk memperingatkan: "Pada akhir minggu ini, kamu dan Sam akan menjadi orang yang paling dibenci di Amerika." Kalimat yang menarik, dari seseorang yang datang ke pengadilan mengklaim sedang memperjuangkan misi kemanusiaan.

Tapi persidangan ini membongkar lebih dari sekadar konflik personal di pucuk pimpinan OpenAI. Ada cerita lain yang tidak kalah substansial, dan cerita itu datang dari Satya Nadella.

April 2022, tujuh bulan sebelum ChatGPT diluncurkan ke publik, CEO Microsoft itu mengirim email kepada jajaran eksekutifnya dengan pesan yang cukup menggelisahkan untuk ukuran salah satu orang terkaya di planet ini: "Saya tidak ingin menjadi IBM dan OpenAI menjadi Microsoft." Nadella merujuk kisah klasik industri teknologi tiga dekade silam, ketika IBM sepakat mendistribusikan sistem operasi Microsoft di perangkat komputernya pada 1980, dan hasilnya Microsoft justru tumbuh melampaui IBM sendiri. Pola yang sangat familiar bagi siapapun yang pernah salah memilih mitra.

Microsoft bukan investor sembarangan di OpenAI. Sejak 2019, mereka sudah mengucurkan lebih dari USD 13 miliar ke perusahaan Altman. Investasi besar, ternyata, tidak otomatis berarti kendali besar. Saat bersaksi di persidangan, Nadella menegaskan bahwa Microsoft perlu "memiliki kendali nyata di setiap lapisan stack," tidak cukup hanya menjadi penyedia layanan cloud Azure.

Khawatir paranoia? Ternyata tidak. Valuasi OpenAI kini sudah menyentuh USD 850 miliar, dan perusahaan itu aktif bermitra dengan Google, Oracle, serta Amazon, tiga kompetitor langsung Microsoft. Nadella mengakui bahwa dalam kesepakatan awal, Microsoft melepas kesempatan mengembangkan model AI sendiri. Karenanya, hak kekayaan intelektual menjadi kompensasi yang tidak bisa ditawar.

Dua cerita berbeda dalam satu persidangan: konflik kepercayaan di internal OpenAI, dan pertaruhan strategis miliaran dolar seorang mitra yang takut tersisih dari revolusi yang justru ia biayai. Bagi investor yang memegang saham Microsoft maupun perusahaan-perusahaan yang ekosistemnya terjalin dengan OpenAI, sidang ini layak diikuti bukan sebagai tontonan. Ini sinyal.