SENIN, 12 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Seskab Teddy Serang "Inflasi Pengamat" dan Tepis I...

Ekonomi

Seskab Teddy Serang "Inflasi Pengamat" dan Tepis Isu Chaos

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut maraknya pengamat tanpa keahlian yang menyebarkan data keliru sebagai "inflasi pengamat", sekaligus membantah tegas isu Indonesia akan chaos dalam waktu dekat.

Dua isu sekaligus dihajar Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam satu sesi pernyataan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (10/4). Soal membanjirnya komentator abal-abal di ruang publik. Dan narasi yang menyebut Indonesia bakal bergolak.

Teddy menyebutnya "inflasi pengamat." Istilah yang cukup menggigit, kalau dipikir-pikir. Maksudnya: terlalu banyak pihak tampil sebagai komentator tanpa latar keahlian yang relevan, tanpa data yang bisa dipertanggungjawabkan. "Ada pengamat beras, tapi dia background-nya bukan di situ. Ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri, dan pengamat-pengamat itu datanya tidak sesuai fakta, datanya keliru," ujar Teddy.

Bukan fenomena baru, sebenarnya. Praktik ini, menurut Teddy, sudah berjalan sejak sebelum Prabowo Subianto resmi dilantik sebagai presiden, dengan tujuan yang menurut pemerintah cukup jelas: membentuk opini publik ke arah tertentu. Klaim yang, jujur saja, cukup serius.

Soal efektivitasnya, Teddy menyodorkan angka sebagai argumen. Lebih dari 96 juta warga, katanya, masih menaruh kepercayaan pada Presiden Prabowo. "Itu adalah bukti nyata kepercayaan publik. Bukan suatu asumsi," tegasnya.

96 juta. Angka yang tidak main-main.

Bersamaan dengan itu, Teddy langsung menepis isu yang belakangan bergulir soal Indonesia yang disebut-sebut akan chaos dalam waktu dekat. Narasi itu, menurutnya, sepenuhnya meleset. Ia menunjuk beberapa indikator sebagai bukti: dua periode Lebaran di era Prabowo berlangsung aman dan lancar; harga BBM bersubsidi tidak dinaikkan meski banyak negara lain terpaksa mengerek harga energi karena tekanan konflik Timur Tengah; dan daya beli masyarakat diklaim masih terjaga.

"Semuanya stabil, semuanya terkendali," kata Teddy, yang juga meminta masyarakat tidak gampang terseret narasi tanpa dasar.

Pemerintah, ia pastikan, tidak menutup pintu kritik. Tapi ada bedanya antara kritik konstruktif dan pernyataan yang dirancang untuk memancing keresahan. "Jangan sampai kita memberi statement yang mengarah pada kecemasan, membuat orang cemas terhadap negeri ini," ujarnya.

Pernyataan Teddy ini memang lebih kental nuansa politisnya ketimbang ekonomis. Tapi konteksnya tetap relevan bagi pelaku pasar: sentimen publik yang terguncang, apalagi bila diperkuat narasi ketidakstabilan, bisa cepat tercermin di pergerakan aset. Agaknya itulah alasan Istana merasa perlu merespons sekeras ini terhadap "sekadar narasi."

Pertanyaannya sekarang: apakah klarifikasi dari Istana cukup untuk meredam kecemasan, atau justru makin menarik perhatian ke isu yang tadinya hanya bergulir di media sosial?