SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Sepuluh Emiten Kena UMA dalam Dua Pekan, Pasar Mer...

Finansial

Sepuluh Emiten Kena UMA dalam Dua Pekan, Pasar Merespons Tak Ramah

Bursa Efek Indonesia menetapkan 10 emiten masuk daftar Unusual Market Activity dalam sepekan terakhir, mulai dari saham properti hingga afiliasi lingkaran istana. Beberapa langsung ambles di sesi perdagangan.

Dipantau BEI, Ada Transaksi Tak Wajar di Saham TCPI, RSCH, dan MARK

Sepuluh saham masuk radar BEI dalam rentang kurang dari dua minggu. Frekuensi penetapan Unusual Market Activity yang meningkat ini layak dicermati, bukan sekadar rutinitas pengawasan bursa biasa.

Selasa, 26 Mei lalu, giliran PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK), PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI), dan PT Charlie Hospital Semarang Tbk (RSCH) yang disematkan status UMA karena lonjakan harga di luar kebiasaan. Manajemen BEI menyatakan sedang mencermati pola transaksi ketiga saham, sambil mengingatkan investor agar tidak terburu-buru ambil posisi hanya berdasarkan momentum harga.

Respons pasar terhadap ketiganya variatif. TCPI dihajar paling keras, ambles 4,57% atau 525 poin ke Rp10.975 di sesi pertama. MARK bergerak terbatas dengan kenaikan tipis 0,61% ke Rp825, volatil di rentang sempit Rp815-Rp825. RSCH justru mencuri perhatian dengan penguatan 2,29% ke Rp268, anomali kecil di tengah sorotan pengawasan.

Tiga hari berselang, BEI mengeluarkan pengumuman serupa untuk PT Aman Agrindo Tbk (GULA), PT Kota Satu Properti Tbk (SATU), dan PT Surya Fajar Capital Tbk (SFAN). Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Yulianto Aji Sadono menegaskan bahwa penetapan UMA tidak otomatis menunjukkan adanya pelanggaran regulasi pasar modal, tapi investor tetap diminta menggali lebih dalam sebelum bertransaksi. Pada penutupan sesi I tanggal 2 Juni, GULA melemah 3,66% ke Rp525, SFAN turun tipis ke Rp1.955, sementara SATU stagnan di Rp258.

Puncaknya, Rabu 3 Juni. BEI mengumumkan empat emiten baru masuk daftar UMA, efektif keesokan harinya: PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Triniti Dinamik Tbk (TRUE), PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS), dan PT Satu Visi Putra Tbk (VISI). Pengumuman itu ditandatangani Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Endra Febri Styawan P.H. Pasar merespons cepat, dan tidak ramah.

TRUE paling babak belur. Kamis (4/6), saham ini amblas 13,7% atau 10 poin ke Rp63 pada intraday. Bukan sekadar angka, TRUE berafiliasi dengan Rahayu Saraswati, keponakan Presiden Prabowo Subianto. NSSS ikut tergelincir 7,87% ke Rp398, VISI turun 4,85% ke Rp980, dan ARCI terkoreksi 1,47% ke Rp1.005. Empat saham, kompak merah.

Ada pola yang agaknya bukan kebetulan. Dalam setiap pengumuman UMA ini, BEI secara konsisten menyoroti emiten yang punya rencana aksi korporasi namun belum mengantongi persetujuan RUPS. TCPI tercatat baru menyampaikan bukti iklan pemberitahuan RUPS pada 20 Mei 2026, sedangkan RSCH menyampaikan bukti iklan panggilan RUPS tertanggal 22 Mei 2026. Bursa, kalau data ini bisa dipercaya, tidak sekadar memantau lonjakan harga, tapi juga mewaspadai siapa atau apa yang mungkin menggerakkannya.

Bagi investor ritel yang sudah telanjur masuk di salah satu dari sepuluh saham ini, soal pelanggaran atau tidaknya kini jadi urusan nomor dua. Yang lebih mendesak: adakah katalis fundamental yang membenarkan pergerakan harga sebelumnya, atau ini sekadar reli yang kini sedang didinginkan paksa oleh bursa?