Iran tidak mau mundur. Pernyataan resmi Teheran pada Minggu (11/10) bahwa Selat Hormuz tetap tertutup sampai tuntutan mereka dipenuhi langsung memberi kejutan ke pasar global keesokan harinya, dan dampaknya terasa sampai ke Jakarta.
Indeks Dolar AS naik 0,13 persen ke 102,25 pada perdagangan Senin (12/10). Rupiah tergelincir ke level terendah sejak Juli. Bagi yang sudah memantau eskalasi ini sejak serangan ke bandara internasional Riyadh, bukan kejutan besar, tapi kecepatan pergerakannya tetap bikin gelisah.
Teheran secara eksplisit menyebut respons Amerika Serikat tidak memadai, sekaligus menutup pintu negosiasi jangka pendek. Pernyataan keras itu bak bensin disiram ke bara, mempertegas bahwa penutupan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia ini bukan sekadar gertakan diplomasi.
Di pasar energi, harga minyak mentah Brent berjangka ditutup di USD104,72 per barel pada Jumat (9/10), naik 0,42 persen dari sesi sebelumnya. Selama jalur ekspor minyak Teluk Persia masih terblokade, agaknya tren ini belum akan berbalik. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati selat itu setiap harinya. Angka yang tidak main-main.
Tekanan datang dari dua arah. Ekspektasi inflasi satu tahun AS untuk Oktober yang dicatat Universitas Michigan berada di 4,7 persen, naik 0,1 poin persentase dari bulan sebelumnya. Angka itu mempersempit ruang The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter. Pasar tahu betul artinya: dolar mahal lebih lama.
Euro tergerus 0,1 persen ke USD1,1198, sedangkan dolar menguat 0,25 persen terhadap yen ke 158,25. Di Seoul, won sempat menyentuh 1.342,5 per dolar di pembukaan sebelum aksi jual dari eksportir semikonduktor meredam tekanan, menutup sesi di 1.337,45. Gambaran yang cukup representatif soal bagaimana kawasan Asia kena tampar gejolak ini.
Buat Indonesia, ceritanya lebih pelik. Kita bukan eksportir minyak bersih, jadi lonjakan harga Brent jadi kabar buruk berlapis: beban impor minyak mentah membengkak, neraca perdagangan tertekan, dan inflasi domestik punya amunisi baru. Rupiah yang sudah menyentuh level terendah sejak Juli akan semakin berat kalau harga minyak terus merangsek dan dolar tak kunjung amblas.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah ketegangan ini berdampak. Sudah jelas berdampak. Yang belum terjawab: seberapa lama Iran bisa dan mau mempertahankan posisi ini sebelum tekanan internasional memaksa kompromi?