RABU, 14 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Sawit Indonesia di Persimpangan: Ekspor Anjlok, Do...

Ekonomi

Sawit Indonesia di Persimpangan: Ekspor Anjlok, Domestik Ambil Alih

Ekspor produk sawit Indonesia terjun bebas pada Mei 2026, sementara kebijakan B50 menggeser peta konsumsi secara permanen. Outlook Q3 makin suram untuk pasar global.

Ekspor Sawit Indonesia Anjlok 25,1% pada Mei 2026, Stok Malah Naik Tembus 3 Juta Ton

Sepanjang Mei 2026, industri kelapa sawit Indonesia kena tampar tiga hal sekaligus: ekspor amblas, stok menumpuk di dalam negeri, dan harga di pasar global ikut terkoreksi. Jarang ketiga tekanan ini datang bersamaan.

Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menunjukkan total ekspor produk sawit pada Mei 2026 hanya mencapai sekitar 2 juta ton, anjlok 28,1% secara bulanan dibandingkan April yang sebesar 2,78 juta ton. Secara tahunan, penurunannya mencapai 25,1% dari angka yang sama tahun sebelumnya di kisaran 2,66 juta ton. Koreksi paling brutal datang dari CPO mentah: ekspornya merosot 79,7% dalam sebulan, dari 153.000 ton menjadi hanya 31.000 ton. Olahan minyak sawit turun 30%, olahan minyak inti sawit tergerus 43,4%.

Nilai ekspor turut terseret. Rata-rata harga CPO CIF Rotterdam bulan itu tercatat US$1.453 per ton, turun 7,2% dari US$1.566 per ton di April, angka ini langsung dikonfirmasi Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono dalam keterangan resminya. Kombinasi volume yang amblas dan harga yang melemah memangkas nilai ekspor Mei menjadi US$2,49 miliar, susut 26,3% dari bulan sebelumnya.

Penurunan ekspor merata hampir ke semua pasar utama. China berkurang 164.000 ton (minus 30%), India turun 124.000 ton (minus 60%), Afrika tergerus 140.000 ton, Amerika Serikat minus 37%. Yang berbalik arah justru Rusia: volume impornya melonjak 216% secara bulanan, lonjakan yang terjadi persis saat diskusi diversifikasi rantai pasok energi ramai bergulir di tingkat geopolitik. Entah kebetulan atau tidak.

Meski ekspor amblas dan produksi CPO pada Mei juga melemah 7% secara bulanan menjadi 4,165 juta ton, stok nasional justru membengkak. Persediaan akhir Mei tercatat 3,042 juta ton, naik hampir 19% dari bulan sebelumnya. Logikanya sederhana: pasokan yang tidak terserap ekspor tertahan di dalam negeri. Tapi ini bukan kabar baik. Stok yang menumpuk di tengah produksi yang menyusut adalah cermin dari permintaan ekspor yang memang lesu, bukan sekadar soal timing pengiriman.

Gambaran yang lebih mengkhawatirkan ada di proyeksi kuartal ketiga. Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) dalam Outlook Q3 2026 memperingatkan bahwa neraca sawit nasional akan semakin ketat sepanjang Juli hingga September. Produksi CPO dan CPKO selama periode itu diperkirakan hanya sekitar 11,1 juta ton, turun 3 juta ton dibanding Q3 tahun lalu. Tekanan terbesar datang dari anomali cuaca: menguatnya El Niño dan Indian Ocean Dipole positif berpotensi memperparah kondisi kering di sentra-sentra produksi, terutama pada Juli dan September.

Konsumsi domestik justru diproyeksikan naik 12,9% YoY menjadi 7,2 juta ton. Biang keroknya jelas: implementasi mandatori biodiesel B50 per 1 Juli 2026, yang seorang diri bakal menyerap sekitar 4,25 juta ton CPO, hampir 60% dari seluruh konsumsi dalam negeri. Ini bukan lagi sekadar kebijakan energi. Ini transformasi struktural yang mengubah siapa konsumen terbesar minyak sawit Indonesia, dan jawabnya bukan lagi pasar ekspor.

Konsekuensinya langsung terasa di sisi pengiriman ke luar negeri. Dengan pasokan yang tersedot untuk kebutuhan dalam negeri, IPOSS memproyeksikan ekspor produk sawit Q3 2026 hanya sekitar 4,3 juta ton. Kurang dari separuh realisasi Q3 2025 yang mencapai 8,3 juta ton. Stok nasional pun diperkirakan terkuras hingga 1,1 juta ton di akhir September. Angka yang membuat pasar sangat rentan terhadap kejutan sekecil apapun.

Pertanyaannya: sudahkah pasar global mempricing semua ini?

Agaknya belum sepenuhnya. Kalau proyeksi IPOSS akurat, harga CPO global berpotensi terus menguat hingga akhir kuartal ketiga, justru di saat ekspor Indonesia makin seret.

Satu catatan yang layak disebut: meski Mei berat, kinerja kumulatif Januari-Mei 2026 masih cukup solid. Total ekspor lima bulan pertama mencapai 13,32 juta ton, naik 10,3% YoY, dengan nilai US$15,52 miliar, tumbuh 13,8% dibanding periode yang sama 2025. Rata-rata harga CPO CIF Rotterdam Januari-Mei 2026 tercatat US$1.417 per ton, jauh di atas US$1.186 per ton setahun sebelumnya. Angka-angka kumulatif ini solid, tapi bisa jadi bak lilin yang meleleh cepat kalau Q3 berjalan sesuai skenario terburuk yang digambarkan IPOSS.