Harga cabai rawit merah sedang dalam episode yang membingungkan: di Garut tembus Rp72.000 per kilogram, petani Magelang turun gunung menjual langsung ke konsumen, sementara di Kulonprogo harga komoditas yang sama justru terjun bebas ke Rp45.000 karena permintaan memble. Satu komoditas, tiga cerita berbeda dalam sepekan yang sama.
Di Kabupaten Garut, lonjakan harga memaksa Dinas Pertanian setempat turun tangan. Lewat program bertajuk Aksi Cabai Harga Terjangkau, kelompok tani lokal menyediakan 500 bungkus cabai, mulai dari cabai keriting, cabai merah besar, cabai hijau, hingga cabai rawit, dijual Rp5.000 per bungkus atau setara Rp50.000 per kilogram. Selisihnya lumayan: harga pasar di Garut saat ini bertengger di Rp72.000 per kilogram.
"Fokusnya di cabai karena cabai saat ini harganya lagi mahal," kata Kepala Bidang Perlindungan dan Pengembangan Usaha Pertanian Dispertan Garut, Susi Suhartianti.
Ini bukan inisiatif mandiri Dispertan Garut. Program itu tindak lanjut langsung instruksi Kementerian Pertanian kepada pemerintah daerah tingkat kabupaten dan kota untuk menggelar bazar atau pasar murah demi mengendalikan inflasi pangan. Artinya, masalah ini sudah cukup serius sampai pusat angkat bicara.
Cerita serupa muncul dari Kabupaten Magelang. Asosiasi Champion Cabai setempat bersama Dinas Pertanian dan Pangan menggelar penjualan langsung sejak 13 Oktober, dengan harga Rp45.000 per kilogram, dikemas per 200 gram seharga Rp9.000 per bungkus. Hingga Kamis 15 Oktober, 1,2 ton cabai rawit sudah terserap.
Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia, Sudarno, bilang harga di pasar bisa lebih tinggi karena cabai melewati beberapa lapis rantai suplai sebelum sampai ke tangan konsumen. "Kalau di sini kita jual dengan harga Rp45.000 sesuai harga di tingkat petani dan telah memotong mata rantai dari petani langsung ke konsumen," katanya. Harga pasaran di Magelang kini berada di kisaran Rp50.000-Rp55.000 per kilogram, turun dari puncaknya yang sempat menyentuh Rp60.000 beberapa pekan lalu.
Lantas, kenapa di Kulonprogo bisa berbeda jauh?
Ketua Champion Cabai Kulonprogo, Sukarman, punya penjelasan yang agaknya lebih jujur dari sekadar soal panen. Cabai rawit merah yang sempat menyentuh Rp65.000 per kilogram kini anjlok ke Rp45.000, dan cabai merah keriting turun dari Rp55.000 menjadi Rp50.000. Penyebabnya bukan membanjirnya panen. "Kami memperkirakan turunnya harga cabai disebabkan oleh daya beli masyarakat yang sedang rendah," ucap Sukarman.
Ada faktor yang jarang masuk laporan ekonomi formal: sepinya hajatan. Kirmi, dari Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, menyebut berkurangnya kegiatan hajatan masyarakat belakangan ini ikut menekan permintaan cabai. Saat hajatan ramai, cabai dibeli dalam jumlah besar untuk dapur umum. Sekarang tidak. Dampaknya, kata Kirmi, pasokan dan kebutuhan kini berimbang, tapi bukan karena produksi meledak, melainkan karena konsumsi yang menyusut.
Bukan angka kecil dampaknya.
Sukarman memperingatkan kondisi ini bisa jadi tidak bertahan lama. Kekeringan yang sedang berlangsung berpotensi menekan hasil panen berikutnya. Kalau permintaan kembali pulih sementara produksi terganggu, siklus lonjakan harga bisa berulang. Ibarat siklus yang sudah terlalu familiar: panen bagus harga jatuh, panen buruk konsumen menjerit.
Pola respons dari tiga daerah ini menarik dicermati. Intervensi rantai pasok oleh petani dan pemda terbukti bisa memangkas harga 20-30% ketimbang harga pasar konvensional, setidaknya itu yang terjadi di Garut dan Magelang. Tapi skema semacam ini sifatnya reaktif, hanya digelar ketika ada instruksi dari pusat atau ketika harga sudah terlanjur meledak. Pertanyaannya, kapan mekanisme direct-to-consumer seperti ini bisa jadi skema tetap, bukan pemadam kebakaran musiman yang digelar begitu ada telepon dari Jakarta?