Ekspor minyak Iran ke China rontok tajam. Dari puncaknya 1,58 juta barel per hari, pengiriman ke Beijing amblas ke sekitar 534.000 barel per hari pada Agustus 2026, turun dari 823.000 barel pada Juli sebelumnya. Washington membaca angka itu sebagai sinyal bahwa tekanan sedang bekerja. Dan Washington ingin semua tahu, ini baru awal.
Pada 24 Agustus 2026, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan fase baru kampanye ekonomi terhadap Teheran yang diberi nama "Operation Economic Outcast". Lima sektor jadi incaran: aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran. Lebih dari 60 individu, entitas, dan kapal masuk daftar sanksi baru. Retorikanya keras dan gamblang. "Mereka yang mengikat diri pada rezim Iran harus bersiap untuk ikut merasakan isolasi yang dialami rezim terpuruk itu," tegas Bessent dalam konferensi pers di Washington D.C. Ia secara eksplisit menyebut China sebagai mitra dagang utama Iran yang bisa menjadi sasaran, tak ada pihak yang kebal, klaimnya.
Beijing merespons sehari kemudian. Lin Jian, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, berdiri di podium konferensi pers Beijing pada 25 Agustus 2026 dan berkata tegas: kerja sama China dengan Iran berjalan dalam kerangka hukum internasional yang sah dan tidak bisa diganggu gugat oleh pihak mana pun. "Kami akan melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya dengan tegas," ujar Lin Jian. Sanksi sepihak AS, lanjutnya, tidak punya dasar dalam hukum internasional maupun otorisasi Dewan Keamanan PBB. Sebaliknya, hanya akan memperparah ketegangan dan mengguncang tatanan ekonomi global.
Ada satu catatan yang luput dari sorotan: dalam gelombang sanksi ini, AS tidak menyasar bank-bank besar China. Agaknya bukan kebetulan. Itu cermin nyata seberapa jauh Washington bersedia mendorong konfrontasi langsung dengan Beijing, setidaknya untuk saat ini.
Pertanyaan yang lebih menggigit: apakah sanksi yang kian diperketat ini benar-benar mampu memukul Iran secara strategis, atau sekadar menekan lebih keras hal yang sudah lama ditekan?
Di lapangan, tekanannya sudah terasa brutal bagi warga biasa. Harga pangan Iran melonjak sekitar 128% secara tahunan per Juli 2026. Mata uang Iran tergerus sedemikian dalam hingga transaksi properti dan kendaraan kini lazim menggunakan dolar AS, iklan-iklan jual beli pun terpasang dengan label harga dolar. Seorang pedagang bahan bangunan di Teheran mengaku kepada DW bahwa menyimpan stok di gudang lebih menguntungkan ketimbang menjualnya. "Jika saya menyimpan sesuatu di gudang selama sebulan, harganya mungkin naik lebih besar dari keuntungan yang akan saya dapat jika menjualnya hari ini," ceritanya. Soal menaikkan harga pun bukan solusi. "Jika saya menaikkan harga melewati batas tertentu, tidak ada yang mampu membelinya." Di satu perusahaan perdagangan, lebih dari 70% karyawan sudah di-PHK dalam enam bulan terakhir.
Tapi bagi analis, efek sanksi terhadap perilaku kepemimpinan Iran adalah perkara yang sama sekali berbeda. Alireza Salavati, pengamat ekonomi politik berbasis di London, skeptis bahwa operasi terbaru AS akan memantik pergeseran strategis yang mendasar. Hampir seluruh sektor utama Iran sudah lama tersanksi, katanya kepada DW. Yang terjadi sekarang lebih pada perluasan penegakan, bukan penciptaan tekanan yang benar-benar baru. "Dampak utamanya kemungkinan bersifat psikologis, memperparah ekspektasi inflasi," sebut Salavati.
Di balik strategi ini, ada paradoks yang mengintai. Semakin AS menekan saluran keuangan formal, semakin kuat insentif Teheran untuk membesarkan kanal informal. Jaringan kripto, perusahaan cangkang, rumah penukaran valuta, dan transaksi tunai sudah lama menjadi tulang punggung ekonomi bayangan Iran. Menutup satu jalur, bisa jadi, hanya membuat transaksinya lebih mahal tanpa benar-benar menghentikannya. "Konsekuensi yang lebih luas kemungkinan bersifat menggerogoti daripada mengubah," peringatnya, ekonomi bawah tanah yang makin membengkak dan makin susah dikendalikan.
Salavati juga mengingatkan risiko yang kerap diabaikan: tekanan ekonomi ekstrem justru bisa melumat kelas menengah dan kalangan profesional yang selama ini menjadi ruang moderasi politik Iran. Bukan perubahan yang lebih cepat yang dihasilkan, melainkan polarisasi yang makin dalam.
Beban paling nyata dari operasi ini, seperti yang berulang dalam sejarah panjang sanksi AS terhadap Iran, jatuh bukan pada pengambil keputusan di Teheran. Ia jatuh pada pekerja, pedagang, dan rumah tangga yang sudah kelelahan menanggung inflasi dan ketidakpastian. Apakah kali ini hasilnya berbeda? Masih terlalu dini untuk dijawab.