KAMIS, 22 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Samsung Watch Ultra 2 dan Watch 9 Resmi Masuk Indo...

Tekno

Samsung Watch Ultra 2 dan Watch 9 Resmi Masuk Indonesia, Ini Harga dan Fiturnya

Duo smartwatch terbaru Samsung debut global di London dan langsung membuka pre-order di Indonesia mulai 22 Juli 2026. Chipset 3nm, layar 5.000 nits, hingga mode diving jadi senjata utama Watch Ultra 2.

Harga Samsung Galaxy Watch Ultra 2 dan Galaxy Watch 9 di Indonesia dan Bonusnya

Dari panggung Old Billingsgate di London, Samsung memperkenalkan dua smartwatch sekaligus: Galaxy Watch Ultra 2 dan Galaxy Watch 9. Keduanya debut dalam Galaxy Unpacked London 2026, satu momen dengan peluncuran Galaxy Fold 8 series dan Galaxy Flip 8. Belum 24 jam setelah acara, Samsung Indonesia sudah membuka jalur pemesanan awal.

Konsumen lokal bisa memesan mulai Rabu, 22 Juli 2026, pukul 20.00 WIB, bertepatan persis dengan dimulainya Unpacked di London. Masa pre-order berlangsung hingga 13 Agustus 2026, sekitar tiga pekan. Promo pembelian tersedia selama periode itu, meski detail lengkap harga per varian belum dirilis secara publik dari sumber yang ada.

Galaxy Watch Ultra 2 penerus langsung Watch Ultra yang pertama muncul pada 2024. Desain squircle khasnya dipertahankan, tapi bodi kini 12 persen lebih tipis, bobotnya turun 26 persen. Layar 1,52 inci dengan kecerahan puncak 5.000 nits, jauh di atas rata-rata smartwatch kelas atas. Baterai silikon 800 mAh mengisi amunisi untuk penggunaan berat seharian.

Yang paling menarik secara teknis: Watch Ultra 2 jadi smartwatch Samsung pertama yang memakai chipset Qualcomm Snapdragon Wear Elite berbasis fabrikasi 3 nanometer. Performa diklaim lebih tinggi, konsumsi daya lebih hemat, perpindahan antar-aplikasi lebih mulus. Angka 3nm itu bukan sekadar brosur, mengingat generasi sebelumnya masih di proses yang jauh lebih besar.

Bagi pengguna yang sering keluar ruangan, Watch Ultra 2 datang dengan navigasi GPX offline, tampilan elevasi jalur, Nutrition Alert, dan mode diving hasil kolaborasi dengan Mares. Bukan fitur yang akan dipakai semua orang. Tapi bagi segmen petualang, ini jelas pembeda.

Galaxy Watch 9 hadir sebagai penerus Watch 8, tersedia dalam ukuran 40 mm dan 44 mm. Bobotnya sekitar 17 persen lebih ringan dari Watch 8 varian 40 mm, dengan layar yang kini mampu menyentuh kecerahan 3.000 nits. Chipset yang digunakan sama persis, Snapdragon Wear Elite, jadi dari sisi performa keduanya setara. Kapasitas baterai model 40 mm naik sekitar 20 persen menjadi 390 mAh. Samsung juga memperbarui desain strap agar lebih nyaman saat tidur, detail kecil yang agaknya sering diremehkan tapi relevan buat pengguna harian.

Keduanya menjalankan One UI 9 dengan pembaruan besar pada Samsung Health, kali ini lebih condong ke pendekatan preventif ketimbang sekadar mencatat data. Ada empat fitur baru.

Pertama, Vitals, yang membangun baseline kondisi pengguna selama beberapa hari awal pemakaian, lalu memperingatkan bila ada perubahan pada detak jantung, HRV, kadar oksigen darah, suhu kulit, atau laju pernapasan. Kedua, Heart Health Score yang merangkum BMI, pola tidur, aktivitas fisik, dan Vascular Load menjadi satu angka beserta rekomendasi personal. Ketiga, Daily Cardio Load untuk mengatur intensitas latihan harian dan mendeteksi apakah pengguna terlalu keras atau justru kurang bergerak. Keempat, Fitness Index yang mengukur kebugaran dari lima dimensi: kardio, komposisi tubuh, kekuatan, fleksibilitas, dan daya tahan. Pengguna bisa menetapkan target, lalu jam tangan akan menyodorkan rekomendasi latihan yang sesuai.

Ada juga Raise to Talk berbasis Google Gemini. Angkat pergelangan tangan, bicara, beres. Pengguna bisa mengecek jadwal, membalas pesan, mengontrol musik, atau mencari informasi tanpa menyentuh layar. Integrasi Gemini inilah yang membuat Watch 9 dan Watch Ultra 2 terasa seperti lompatan lebih jauh dari sekadar upgrade spesifikasi.

Pertanyaannya, apakah pasar Indonesia siap menyerap dua SKU premium sekaligus? Samsung agaknya sudah berhitung. Strategi pre-order yang dibuka bersamaan dengan peluncuran global adalah sinyal jelas: Indonesia bukan lagi titik distribusi kelas dua dalam peta Samsung.