JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Samsung Riset Liquid Cooling untuk Galaxy, Throttl...

Tekno

Samsung Riset Liquid Cooling untuk Galaxy, Throttling Jadi Target Utama

Samsung membentuk tim riset khusus untuk mengembangkan sistem pendingin cair aktif pada ponsel Galaxy, menyasar masalah thermal throttling yang masih menghantui chipset flagship saat beban berat.

Samsung sedang mengembangkan sistem pendingin cair aktif untuk ponsel Galaxy.

Throttling performance bukan masalah baru di industri ponsel, tapi Samsung rupanya sudah muak cukup lama. Raksasa teknologi Korea Selatan itu tengah meneliti penerapan sistem liquid cooling aktif untuk jajaran Galaxy masa depan, sebuah langkah yang jauh lebih ambisius dibanding solusi vapor chamber yang mereka andalkan selama ini.

Samsung membentuk tim riset khusus di bawah naungan Production Technology Research Institute untuk mengeksplorasi metode pendinginan aktif. Fokus utamanya: sistem liquid cooling yang bekerja dengan cara mengedarkan cairan dalam struktur tertutup yang terintegrasi langsung ke dalam bodi perangkat. Bukan heatsink atau pelat tembaga pasif yang sudah ada, melainkan sirkulasi cairan nyata di dalam chassis ponsel.

Park Min, Direktur Laboratorium di institusi tersebut, menegaskan bahwa desain sistem ini diarahkan agar terhubung langsung ke chipset. Akses langsung ke sumber panas, kata Park, memaksimalkan efisiensi transfer termal sehingga prosesor bisa terus beroperasi dalam batas suhu aman meski sedang dihajar beban berat seperti inferensi AI on-device atau sesi gaming panjang.

Tim riset juga mengeksplorasi opsi air cooling, yakni pendinginan berbasis aliran udara. Efektif secara teori, tapi ada konsekuensi yang tidak bisa diabaikan: kipas menambah bobot dan, yang lebih krusial, menimbulkan kebisingan. Bagi ponsel premium yang juga difungsikan sebagai perangkat kerja, dua hal itu bisa jadi deal-breaker.

Bukan teknologi baru, sebenarnya. Oppo, Vivo, bahkan Nubia lewat lini RedMagic sudah lebih dulu memasarkan ponsel dengan sistem air cooling aktif dan kombinasi liquid-air cooling. Nubia juga sudah membuktikan bahwa keduanya bisa hidup berdampingan dalam satu perangkat. Fakta itulah yang agaknya mendorong Samsung untuk akhirnya serius masuk ke ranah yang selama ini mereka tinggalkan.

Dari sisi chipset, Samsung tidak berdiri di titik nol. Exynos 2600, yang sudah dibekali teknologi Heat Pass Block, diklaim mampu beroperasi lebih dingin dibanding Snapdragon 8 Elite Gen 5. Kalau klaim itu terbukti di lapangan, sistem liquid cooling aktif bisa menjadi lapisan perlindungan termal tambahan yang membuat keunggulan itu makin terasa, bukan sekadar angka di benchmark.

Hanya saja, proyek ini masih berada di fase awal. Belum ada konfirmasi resmi dari Samsung soal model Galaxy mana yang akan menjadi yang pertama mengadopsi teknologi ini, maupun kapan ia siap masuk lini produksi. Perjalanan dari lab ke rak toko biasanya panjang, dan banyak hal bisa berubah.

Bagi investor maupun penggemar ekosistem Samsung, pertanyaannya bukan sekadar soal ponsel yang tidak panas. Kalau riset ini berhasil, Samsung akhirnya punya jawaban konkret untuk memaksimalkan performa AI on-device dalam jangka panjang, sebuah medan pertempuran yang makin ramai, dan makin serius diperebutkan.