Harga US$700 itu bukan angka yang murah. Tapi justru di situlah Samsung memainkan kalkulasinya. Galaxy S26 FE resmi diluncurkan pada Kamis pekan ini dengan banderol sekitar Rp12,4 juta, naik US$50 dibanding Galaxy S25 FE yang jadi pendahulunya. Saat konsumen sudah mulai mengernyitkan dahi melihat harga perangkat yang terus merangkak, Samsung agaknya memilih kompromi ketimbang mendorong angka lebih jauh ke atas.
Kompromi itu bernama Exynos 2500. Alih-alih memakai chip Qualcomm seperti yang terpasang di Galaxy S26 standar, Samsung memilih prosesor buatan internalnya sendiri untuk seri FE ini, dengan kemampuan yang secara umum berada di bawah Snapdragon. Langkah ini bisa dibaca dua arah: efisiensi biaya produksi, sekaligus sinyal bahwa Samsung makin percaya diri mendorong lini Exynos ke pasar yang lebih luas.
Satu hal yang membedakan strategi kali ini: keseragaman chipset di seluruh dunia. Tidak ada varian Snapdragon untuk Amerika Utara dan Exynos untuk Asia, seperti yang kerap terjadi di lini flagship Samsung terdahulu. Konsumen di Jakarta, Seoul, hingga London mendapat perangkat dengan SoC yang persis sama. Bagi sebagian orang, ini soal keadilan. Bagi sebagian lainnya, ini tetap saja berarti membeli sesuatu yang selangkah di bawah versi Qualcomm.
Exynos 2500 sendiri membawa peningkatan nyata dibanding Exynos 2400 yang dipakai S25 FE. Performa big-core CPU naik 15 persen, kemampuan on-device AI melonjak 39 persen. GPU Xclipse 950 turut mendapat upgrade kecepatan dibanding generasi sebelumnya. Angka-angka ini patut diapresiasi, meski konteksnya perlu diingat: patokannya adalah generasi lama, bukan chip Qualcomm yang jadi tolok ukur industri saat ini.
Untuk spesifikasi lainnya, Galaxy S26 FE datang dengan paket yang cukup solid di kelas harganya. Layar 6,7 inci Dynamic AMOLED 2X, refresh rate 120Hz, kecerahan puncak 1.900 nits, terbilang kompetitif. Gorilla Glass Victus+ melapisi bagian depan, sertifikasi IP68 mengamankan dari air dan debu. Samsung membekali perangkat ini dengan RAM 8GB, bukan 12GB seperti yang disebutkan Bloomberg Technoz dalam konteks berbeda, dan storage tersedia dari 128GB hingga 512GB dengan teknologi UFS 4.0.
Kamera jadi daya tarik lain yang ditonjolkan. Triple camera: kamera utama 50MP f/1.8 bersensor 1/1.57 inci plus OIS, ultrawide 12MP, dan telephoto 8MP dengan OIS serta zoom optik 3x. Ketiganya mendukung OIS, sesuatu yang tidak selalu hadir di kelas harga ini. Video 8K30fps juga disertakan, sekalipun dalam praktiknya kualitas gambar S26 FE tidak bakal menyamai seri Samsung yang lebih premium. Setidaknya itu yang sudah bisa ditebak sebelum unit review beredar.
Baterai 4.900mAh, fast charging 45W, wireless charging 15W. Adapter charger tidak disertakan dalam kotak. Siapkan biaya ekstra.
Untuk gambaran harga di kawasan, Malaysia jadi patokan awal: varian 8/128GB dijual 2.899 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp12,8 juta, varian 8/256GB dipatok 3.299 RM setara Rp14,5 juta, sementara varian 8/512GB tembus 4.099 RM alias sekitar Rp18,1 juta. Tersedia dalam warna Blueberry, Graphite, dan Pistachio. Penjualan global via Samsung dan pengecer dimulai 4 September 2026, sementara mitra operator tertentu sudah bisa menjual sejak 3 September. Samsung Indonesia belum mengumumkan harga maupun jadwal ketersediaan lokal.
Pertanyaannya, berapa lama Samsung bisa menjaga posisi harga ini sebelum tekanan kompetitor memaksa mereka bergerak? Untuk calon pembeli yang butuh jawaban lebih praktis: S26 FE hampir pasti cukup untuk kebutuhan harian. Apakah ini pilihan terbaik di rentang Rp12-18 juta, bisa jadi, tapi itu baru bisa dijawab setelah benchmark kepagian bisa disandingkan dengan kompetitor yang tidak sedikit.