Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sudah lama jadi sorotan pasar, tapi tekanan sebulan terakhir terasa berbeda bobotnya. Anjlok lebih dari 60%, angka yang cukup untuk membuat siapapun yang nyangkut di level atas berpikir ulang, dan mulai menghitung kerugian.
Isu penjaminan saham TPIA oleh induk usahanya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), ikut berseliweran di media sosial. Bukan kabar sepele. Kalau harga saham yang dijaminkan terus merosot, posisi margin bisa terancam, dan pasar punya cukup alasan untuk gelisah.
BRPT angkat bicara. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kamis (21/5/2026), manajemen menegaskan bahwa seluruh fasilitas pembiayaan dan penjaminan saham dikelola secara prudent dengan mempertimbangkan skenario risiko secara terukur. Mekanisme mitigasi volatilitas pasar, kata mereka, sudah masuk dalam skema penjaminan itu.
Rasio margin dan posisi likuiditas, lanjut manajemen, dijaga secara disiplin sesuai prinsip kehati-hatian. "Pergerakan harga saham merupakan bagian dari dinamika pasar, operasional dan fundamental bisnis Barito Pacific beserta anak usaha tetap berjalan solid, didukung oleh fundamental usaha yang kuat dan kinerja operasional yang resilien," demikian bunyi pernyataan resmi BRPT. Klaim yang, entah kebetulan atau tidak, selalu terdengar meyakinkan justru di saat pasar paling ragu.
Salah satu pemicu tekanan yang sulit diabaikan: keputusan MSCI Inc. Pada 12 Mei 2026, lembaga indeks itu mengumumkan hasil tinjauan Mei 2026 dan mencoret enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index, TPIA masuk daftar. Perubahan berlaku efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026. Lima emiten lain yang bernasib sama adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Kaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Pencoretan dari MSCI bukan sekadar urusan administratif indeks. Dana-dana pasif yang acuannya MSCI Global Standard secara otomatis melepas kepemilikan di saham-saham ini sebelum tanggal efektif. Tekanan jualnya nyata dan terukur, bak aliran air yang tahu persis ke mana harus mengalir.
Ironis, TPIA sempat mengumumkan pembagian dividen di tengah badai ini. Tapi sentimen negatif agaknya terlalu kencang untuk dibendung oleh berita positif sekelas dividen sekalipun. Sahamnya masih tergerus.
29 Mei sudah di depan mata. Bola ada di tangan manajemen BRPT untuk membuktikan bahwa ketahanan likuiditas yang mereka klaim bukan sekadar jargon.