PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) resmi menjadwalkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 4 September 2026, dan agenda utamanya sudah bocor lebih dulu dari mulut Direktur Utamanya sendiri.
Dalam paparan kinerja semester I 2026 di Menara BTN, Jakarta, Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengungkapkan bahwa RUPSLB itu akan membahas perubahan susunan direksi dan komisaris. Usulan datang dari Danantara, entitas yang kini mengendalikan saham BUMN strategis termasuk BTN. "Agendanya sementara kalau dari Danantara perubahan susunan pengurus. Kita masih menunggu dari mereka pengurus yang akan diubah," kata Nixon.
Siapa yang bakal diganti? Belum ada kepastian. Nixon menyebut pihaknya masih menunggu keputusan final Danantara soal nama dan jabatan yang akan berubah. Pasar, agaknya, harus bersabar sampai pemanggilan resmi RUPSLB pada 6 Agustus 2026.
Secara teknis, rapat dijadwalkan pukul 14.00 WIB, digelar hybrid, luring di Menara BTN Jalan Gajah Mada Jakarta Pusat, daring lewat Electronic General Meeting System eASY.KSEI. Pemegang saham yang berhak hadir adalah mereka yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham pada penutupan perdagangan BEI tanggal 5 Agustus 2026. Bagi yang ingin mengusulkan mata acara tambahan, batas waktunya 30 Juli 2026, dengan syarat memegang Saham Seri A Dwiwarna atau mewakili minimal 1/20 dari total saham bersuara.
Di luar agenda RUPSLB, Nixon juga membuka kartu soal aksi korporasi yang tengah dimatangkan bersama PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) untuk paruh kedua tahun ini. Salah satunya sekuritisasi aset senilai Rp300 miliar hingga Rp400 miliar. Tidak banyak, kata Nixon sendiri. Opsi lain yang dikaji: penerbitan obligasi yang akan diserap SMF, dengan syarat instrumen itu bisa diklasifikasikan sebagai tier 2 capital guna memperkuat struktur permodalan bank.
Konteks aksi korporasi ini menarik bila disandingkan dengan kinerja perseroan yang sedang dalam tren positif. Sepanjang semester I 2026, BTN membukukan laba bersih konsolidasi Rp2,40 triliun, melonjak 40,8% secara tahunan. Bukan angka kecil. Lonjakan ini jauh melampaui kecepatan ekspansi kredit yang tumbuh 11,2% YoY menjadi Rp418,11 triliun, sementara total aset konsolidasi menembus Rp545,16 triliun, naik 12,4% dari posisi Rp484,96 triliun setahun sebelumnya.
Yang patut dicermati, kredit nonperumahan BTN melesat 46,1% YoY menjadi Rp85,22 triliun dari Rp58,34 triliun, jauh melampaui pertumbuhan segmen utamanya. Kredit perumahan sendiri tumbuh 4,8% YoY menjadi Rp332,88 triliun dari Rp317,77 triliun. Kalau data ini bisa dijadikan patokan, diversifikasi portofolio kredit agaknya jadi salah satu mesin pendorong lonjakan laba. Di sisi kualitas aset, Loan at Risk turun dari 20,2% menjadi 18,6%, sedangkan Cost of Credit tergerus dalam dari 2,0% menjadi 0,7%.
Laba tumbuh hampir 41%, tapi kursi direksi dan komisaris masih menggantung tanpa kepastian nama. Dua hal itulah yang kini harus dipantau investor BBTN sekaligus: angka-angka yang bergerak ke arah yang benar, dan siapa yang nantinya akan mengemudikan bank ini.