KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Rupiah Tetap Lemah 5 Tahun ke Depan, Ganti Gubernu...

Ekonomi

Rupiah Tetap Lemah 5 Tahun ke Depan, Ganti Gubernur BI Pun Percuma?

Ekonom senior Didik J. Rachbini memperingatkan bahwa pergantian kepemimpinan Bank Indonesia tidak akan mampu mengangkat rupiah secara signifikan, karena masalahnya bukan di BI, melainkan di struktur ekonomi nasional yang rapuh.

Ekonom Sebut Tak Mudah Bikin Rupiah Menguat ke Depan

Destry Damayanti sudah mengantongi restu Komisi XI DPR RI. Gubernur Bank Indonesia anyar itu tinggal menunggu pelantikan resmi sebelum menggantikan Perry Warjiyo yang mundur dari pucuk kepemimpinan BI sejak Juli lalu. Tapi di balik pergantian kursi nomor satu bank sentral itu, satu pertanyaan menggantung: apakah rupiah akan ikut berubah nasibnya?

Ekonom senior Didik J. Rachbini punya jawaban yang tidak nyaman. "Sampai 5 tahun mendatang rupiah tetap tidak akan menguat, akan tetap lemah dan bahkan terus melemah," tegasnya, Minggu (30/8/2026). Prediksi itu bukan sekadar pesimisme musiman.

Akar masalahnya, kata Didik, bukan di meja gubernur BI. Jauh lebih dalam dari itu. Sektor eksternal Indonesia lemah secara struktural: ekspor masih bergantung komoditas mentah yang harganya naik-turun sesuka pasar global, cadangan devisa tipis, dan orientasi pengusaha nasional sudah lama berbalik ke dalam negeri. Warisan kebijakan berpuluh tahun yang tidak akan bergeser hanya karena satu nama berganti di pucuk bank sentral.

Angkanya bicara sendiri. Cadangan devisa Indonesia per akhir Juli 2026 hanya US$145,3 miliar. Tidak seberapa. Singapura, negara kecil yang tidak punya sumber daya alam berarti, menggenggam US$426,2 miliar. Thailand, yang mata uangnya pernah terjungkal pada 1998, menyimpan US$279,2 miliar, dua kali lipat lebih. Bahkan Malaysia yang populasinya jauh lebih kecil mencatat US$132,6 miliar. "Bagi negara sebesar Indonesia, cadangan devisa sebesar ini tidak cukup dan bahkan terlalu kecil untuk menjadi penyangga eksternal," sebut Didik.

Ada jebakan lain yang kerap luput dari perhatian. Indonesia punya kelas menengah besar, konsumsi rumah tangga kuat, pasar domestik yang luas. Justru di situ masalahnya. Setelah era outward looking tahun 1980-an dan 1990-an, pengusaha nasional berbalik arah jadi inward looking, nyaman berputar di pasar dalam negeri. Menguntungkan buat mereka, memang. Tapi karena proses produksinya rakus impor bahan baku, efek bersihnya justru menggerus devisa.

"Jika orientasi ini tidak bisa diubah, maka BI tetap akan pasrah menerima kondisi pasar seperti ini," ujar Didik. Instrumen suku bunga pun ia anggap tidak cukup. Naik suku bunga memang bisa menarik modal asing, tapi di saat yang sama mencekik kredit, memberatkan cicilan KPR, menghambat investasi domestik. Turun suku bunga? Risiko capital outflow langsung mengintai, apalagi kalau gerakannya terlalu cepat.

Apakah gambaran ini terlalu gelap? DBS Group Research menawarkan perspektif yang sedikit lebih menyegarkan. Ekonom DBS Radhika Rao mencatat pasar domestik menunjukkan kondisi lebih positif sepanjang Agustus 2026, ditopang meredanya ketidakpastian kebijakan dan kembalinya investor asing ke surat utang rupiah. Arus dana asing hampir menyentuh US$1 miliar selama bulan ini. USD/IDR sudah turun dari puncak Juli, kini bergerak di kisaran 16.700-17.900. Pelemahan dolar AS secara global turut membantu, dengan rupiah menguat sekitar 1,6% sepanjang Agustus.

DBS juga mencatat pergeseran pendekatan BI. Bank sentral tidak lagi semata bermain di instrumen suku bunga, tetapi mulai memperkuat instrumen non-suku bunga seperti insentif swap dan perluasan transaksi mata uang lokal yang dijalankan sejak Juni-Juli. Sinergi BI dan pemerintah dinilai menjadi salah satu penopang stabilitas nilai tukar jangka pendek.

Soal Destry sendiri, DBS memperkirakan gubernur baru itu tidak akan buru-buru menekan tombol kebijakan baru sebelum ada tekanan nyata dari nilai tukar atau inflasi. Kesinambungan, agaknya, menjadi kata kunci kepemimpinan baru ini, setidaknya untuk tahap awal.

Di sinilah titik temu sekaligus titik belah kedua perspektif itu. Jangka pendek, kombinasi sentimen global yang membaik dan koordinasi fiskal-moneter bisa memberi ruang napas bagi rupiah. Tapi jangka panjang? Selama problem struktural soal daya saing ekspor, kepastian hukum, korupsi, dan defisit devisa tidak dibereskan, BI dalam formasi apapun akan terus bermain bertahan. Bukan membangun.

"Perubahan kepemimpinan BI hanyalah peristiwa dan siklus biasa," sebut Didik. Keras, tapi patut dicermati oleh siapapun yang sedang menaruh harapan besar pada nama baru di lantai 20 gedung BI.