Rupiah menutup Mei 2026 dengan rapor merah membara. Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5), mata uang Garuda terjerembap 0,48% ke level Rp 17.874 per dolar Amerika Serikat, mencatatkan depresiasi bulanan 2,91%. Tren negatif ini sudah berlangsung tiga bulan berturut-turut. Di antara mata uang Asia, rupiah kembali menyandang predikat yang tidak ingin disandang siapa pun: kinerja terburuk tahun berjalan.
Ada babak lain yang agaknya luput dari perhatian banyak orang. Dollar Singapura pada hari yang sama menembus Rp 14.000, sebuah level yang menjadi sinyal keras bahwa tekanan terhadap rupiah bukan semata-mata soal dominasi dolar AS di pasar global. Pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menyebut fenomena ini sebagai cermin dari divergensi kekuatan ekonomi yang riil di level regional, bukan sekadar efek riak dari kebijakan Federal Reserve.
Dampaknya paling terasa di kantong kelas menengah. Biaya kuliah anak di Singapura, tagihan rumah sakit, tiket perjalanan ke Negeri Singa, semuanya ikut membengkak. Dan itu baru sisi yang kasat mata.
Yang tidak kalah menggigit adalah efek lintas rantai distribusi. Singapura selama ini berfungsi sebagai hub transit utama perdagangan Asia Tenggara, tempat sebagian besar barang modal, bahan baku, dan komoditas energi impor Indonesia dikonsolidasikan sebelum dikirim ke pelabuhan domestik. Ketika rupiah melemah terhadap SGD, biaya bongkar muat, pergudangan, dan jasa logistik di Singapura ikut membengkak dalam denominasi rupiah. Ujungnya, tekanan biaya distribusi itu merembet ke harga barang di dalam negeri. Bisa jadi lebih cepat dari yang kita bayangkan.
Satu kanal lagi patut dicermati: energi. Perdagangan dan pengolahan produk minyak di kawasan Asia banyak mengacu pada pasar Singapura lewat mekanisme Mean of Platts Singapore (MOPS). Artinya, pelemahan rupiah terhadap SGD bisa jadi bahan bakar tambahan bagi inflasi transportasi domestik, baik lewat tekanan pada subsidi energi maupun harga BBM nonsubsidi.
Mengapa dollar Singapura begitu tangguh? Rahasianya terletak pada perbedaan mendasar dalam arsitektur kebijakan moneter kedua negara. Bank Indonesia bertumpu pada suku bunga sebagai senjata utama, sifatnya defensif: naikkan bunga, tahan pelarian modal. Monetary Authority of Singapore bermain di lapangan berbeda. MAS mengelola nilai tukar secara langsung lewat mekanisme Nominal Effective Exchange Rate (NEER). Saat inflasi global tinggi, MAS justru membiarkan SGD terapresiasi agar harga impor tetap terkendali dan inflasi domestik bisa dibendung dari hulu. "Dampaknya terhadap Rupiah, adalah saat MAS memilih jalur apresiasi untuk menjaga ekonomi mereka, sementara Rupiah masih berjuang melawan defisit transaksi berjalan atau fluktuasi komoditas, maka secara otomatis cross-rate antara SGD dan Rupiah akan semakin melebar," jelas Rahma.
Pertanyaannya, berapa lama tekanan ini bertahan? Kalau sentimen global membaik dan aliran modal kembali deras ke aset emerging market, ada ruang bagi rupiah untuk bernapas. Tapi selama ketidakpastian global belum mereda dan perburuan aset safe haven masih menggeliat, rupiah agaknya masih harus berjuang keras sekadar untuk berdiri tegak.