KAMIS, 8 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Rupiah Terkapar di Rp 18.128, Dihajar Tiga Sentime...

Finansial

Rupiah Terkapar di Rp 18.128, Dihajar Tiga Sentimen Sekaligus

Rupiah ditutup melemah 114 poin ke Rp 18.128 per dollar AS pada Kamis, tertekan simultan oleh eskalasi konflik Iran-AS di Selat Hormuz, sinyal hawkish The Fed, dan sentimen negatif dari percepatan realisasi APBN semester I 2026.

Rupiah Kembali Tembus 18.100 per Dollar AS, Pasar Cermati APBN hingga Konflik Timur Tengah

Rupiah kembali tumbang di atas Rp 18.000 per dollar AS, menutup perdagangan Kamis (9/7/2026) di level Rp 18.128, tergerus 114 poin atau 0,63 persen. Yang bikin miris: pelemahan ini terjadi justru ketika sebagian besar mata uang Asia bergerak menguat.

Yuan China memimpin reli kawasan dengan kenaikan 0,15 persen. Yen Jepang dan baht Thailand kompak menguat 0,14 persen, rupee India naik 0,11 persen, dollar Singapura ikut menguat tipis 0,05 persen. Rupiah malah berlawanan arah, senasib dengan dollar Taiwan yang amblas 0,45 persen dan won Korea Selatan yang tergerus 0,27 persen.

Tiga tekanan sekaligus. Dari dalam negeri, percepatan realisasi APBN semester I 2026 justru terbaca negatif oleh pasar. Ibrahim Assuaibi, analis mata uang dan komoditas, menyebut langkah itu sebagai beban sentimen tersendiri. "Pelaksanaan APBN yang lebih cepat pada semester pertama tahun 2026 menjadi sentimen negatif bagi pasar," katanya kepada wartawan, Kamis. Logikanya agaknya sederhana: belanja pemerintah yang cepat mendorong kebutuhan valas, mempertebal tekanan di sisi permintaan dollar.

Indeks Keyakinan Konsumen Bank Indonesia untuk Juni 2026 pun amblas ke 117,8 dari 120,9 di Mei, menyentuh titik terendah sejak September tahun lalu. Bandingkan dengan Januari 2026 ketika indeks ini masih berdiri di 127,0. Empat bulan melorot beruntun. Bukan sinyal yang bisa dikesampingkan begitu saja, meski BI berpegang pada argumen bahwa optimisme masyarakat masih terjaga selama IKK bertahan di atas 100.

Dari luar, konflik Iran-AS makin mendidih. Trump mengancam serangan lanjutan terhadap Iran menyusul operasi Rabu malam yang diklaim bertujuan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka. Tehran membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global, kini jadi titik panas: sejumlah perusahaan asuransi perang menyarankan pelayaran berhenti sementara di kawasan itu, sebagian lain mulai meninjau ulang polis mereka.

Risalah rapat The Fed Juni, dirilis Rabu, menambah beban. Para pejabat ternyata tidak sedovish yang diharapkan pasar, terpecah soal perlu tidaknya kenaikan suku bunga tahun ini, sementara inflasi AS masih membandel di atas target 2 persen. Sebagian dipicu eskalasi konflik sejak akhir Februari. Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan komitmen membawa inflasi ke target, kalimat yang di telinga pasar terdengar seperti peringatan bahwa suku bunga tinggi masih akan bertahan lebih lama dari yang diharapkan.

Apakah ada celah untuk optimisme? Freddy Tedja, Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia, memproyeksikan rupiah bisa kembali ke kisaran Rp 17.500 per dollar AS di penghujung 2026 jika kondisi berjalan positif. Ia menunjuk stabilitas relatif rupiah pada Juni lalu sebagai modal, ditopang kebijakan pro-stabilitas Bank Indonesia dan berkurangnya tekanan musiman dari pembayaran dividen serta periode haji.

Namun Freddy sendiri mengakui jalan ke sana tidak mulus. Evaluasi S&P Global Ratings yang dijadwalkan Juli-Agustus, arah suku bunga The Fed, dan konsistensi kebijakan fiskal domestik akan jadi penentu. Kalau data ini bisa dipercaya, Rp 17.500 di akhir tahun bukan mustahil. Tapi kalau tiga faktor tadi berbalik arah, angka itu hanya indah di atas kertas.