Rupiah menyentuh kisaran Rp18.000 per dolar AS pada Kamis pagi, dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI termasuk yang merasakannya langsung di laporan biaya.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin tidak menampik bahwa fluktuasi kurs mulai memberi tekanan pada beban operasional perusahaan. Dua komponen paling rentan: suku cadang kereta yang sebagian besar masih diimpor, dan solar yang tidak semuanya mendapat subsidi negara. "Tentu berpengaruh. Sebab masih ada sejumlah suku cadang yang kami beli dari luar negeri," ujar Bobby. Soal bahan bakar, Bobby memperjelas: "Sebagian kebutuhan solar kami juga tidak menggunakan solar bersubsidi, melainkan solar dengan harga pasar."
Rupiah sendiri dibuka melemah 0,11% ke level Rp17.998 berdasarkan data Doo Financial Futures. Tren yang sama menyeret mayoritas mata uang Asia. Yen Jepang tergerus 0,11%, won Korea bahkan amblas 0,35%. Dolar Singapura dan dolar Hong Kong masing-masing melemah 0,03%. Bukan tekanan yang berdiri sendiri.
Bagi penumpang KAI, ada kabar yang agaknya sedikit melegakan. Bobby menegaskan belum ada kajian untuk menaikkan harga tiket. Efisiensi operasional jadi pegangan manajemen untuk meredam tekanan biaya. Seberapa lama strategi ini bisa bertahan jika rupiah terus tergerus, itu pertanyaan yang belum terjawab.
Dari sisi kinerja, KAI sebenarnya mencatat hasil yang tidak buruk sepanjang 2025. Volume penumpang tembus 493 juta orang, naik 9% dari 452 juta orang pada 2024. Angkutan barang tumbuh tipis ke 70 juta ton dari sebelumnya 69,2 juta ton. Laba bersih perseroan tercatat Rp2,3 triliun, naik 2% dibanding Rp2,2 triliun setahun sebelumnya. Bukan angka spektakuler. Tapi solid.
Satu angka yang perlu dicermati: total pendapatan konsolidasi KAI pada 2025 justru terkoreksi tipis 1% secara tahunan, dari Rp35,9 triliun menjadi Rp35,7 triliun. Laba tumbuh bukan karena top line yang membesar, melainkan karena efisiensi di sisi biaya. Persis di saat itulah rupiah mulai bergerak ke arah yang salah. Kalau kurs betah di atas Rp18.000, tekanan yang selama ini berhasil diredam bisa jadi ujian berat di kuartal-kuartal mendatang.