Rupiah menyentuh Rp17.926 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi, melemah 0,49 persen dan menjadi mata uang dengan koreksi terdalam di kawasan Asia. Jauh melampaui ringgit Malaysia yang turun 0,25 persen, baht Thailand 0,09 persen, yuan China 0,05 persen, hingga peso Filipina yang hanya tergerus 0,02 persen. Bukan sekadar angka di layar terminal Bloomberg. Angka itu punya konsekuensi nyata di lantai pabrik dan kandang sapi.
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) termasuk yang langsung merasakan hantamannya. General Manager Research and Development Health and Wellness Divisi Dairy ICBP, Tjatur Lestijaman, mengakui sekitar 80 persen kebutuhan bahan baku susu nasional, termasuk untuk lini Indomilk, masih dipasok dari luar negeri dengan transaksi berbasis dolar. "Kurang lebih memang karena 80 persen dari kebutuhan susu ini masih impor dan harganya juga terpaut dengan dolar, sedikit banyak memang ada pengaruh terhadap bahan baku untuk Indomilk," katanya saat konferensi pers Hari Susu Nusantara 2026 di Jakarta, Selasa (2/6). Artinya, setiap kali rupiah amblas, biaya produksi otomatis ikut membengkak.
Namun Tjatur memberi sinyal yang agak melegakan: kenaikan itu tidak akan sepenuhnya dilempar ke konsumen. "Kami berkomitmen bahwa kita enggak akan 100 persen pasang [kenaikan] harga [ke] konsumen. Jadi, kita masih melihat bahwa masyarakat perlu ada daya beli yang masih bisa terjangkau," tegasnya. Sebagai gantinya, perusahaan menjalankan program efisiensi di level pabrik, meski rincian langkahnya tidak diungkap ke publik.
Dampak rupiah loyo tidak berhenti di pabrik pengolahan. Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, Makmun, menyebut upaya pemerintah menambah populasi sapi perah melalui impor pun ikut terdampak. Harga sapi perah bunting asal Australia, yang selama ini menjadi sumber utama impor, merangkak naik dari rata-rata Rp45 juta per ekor tahun lalu, tapi belum juga menyentuh Rp50 juta tahun ini. "Ada kenaikan, tapi tidak terlalu jauh juga dari kondisi yang ada," kata Makmun. Bukan lonjakan yang dramatis, tapi cukup mengganggu kalkulasi program pembibitan nasional.
Dari Senayan, tekanan politik mulai terdengar. Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKB, Rina Sa'adah, mengingatkan bahwa yang perlu diwaspadai bukan sekadar pergerakan kurs di layar, melainkan efek dominonya ke biaya produksi petani, peternak, dan nelayan. Sektor-sektor itu, kata Rina, saat ini masih sangat bergantung pada impor kedelai, gandum, garam industri, hingga bahan baku pakan ternak, semuanya bertransaksi dalam dolar. "Yang menjadi perhatian kami bukan sekadar pergerakan kurs, melainkan dampaknya terhadap biaya produksi dan ketahanan pangan nasional," ujarnya kepada wartawan, Rabu (3/6).
"Jika biaya impor meningkat, maka tekanan terhadap harga pangan dan biaya produksi petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha perikanan juga akan semakin besar," lanjut Rina. Komisi IV, katanya, mendorong pemerintah mempercepat swasembada pangan, memperkuat industri pakan lokal, mengembangkan benih unggul nasional, dan memastikan subsidi benar-benar sampai ke tangan yang tepat.
Rina juga menawarkan cara baca yang lebih jernih soal kurs. Bandingkan rupiah dengan mata uang tetangga ASEAN: kalau pelemahan terjadi merata di kawasan, tekanannya lebih banyak dari faktor eksternal. Kalau rupiah amblas jauh lebih dalam sendirian, ada yang perlu dievaluasi dari sisi domestik. "Yang perlu kita lihat bukan hanya angka kurs rupiah terhadap dollar AS, tetapi juga bagaimana posisi Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga," katanya. Data 3 Juni agaknya masuk kategori pertama, karena hampir semua mata uang Asia melemah pagi itu. Tapi rupiah yang paling dalam. Bak ayam jantan kalah duluan.
Pertanyaannya buat pelaku pasar dan konsumen sama saja: sampai kapan produsen bisa menyerap tekanan biaya ini tanpa akhirnya memindahkan bebannya ke rak-rak supermarket?