RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Rupiah Rp18.000: Dari Maia Estianty sampai Bimbim...

Finansial

Rupiah Rp18.000: Dari Maia Estianty sampai Bimbim Slank Ikut Terdampak

Pelemahan rupiah ke level Rp18.000 per dolar AS mulai dirasakan lintas kalangan, termasuk para musisi yang bergantung pada peralatan impor.

Bimbim Slank Cerita Dampak Rupiah Tembus Rp 18.000: Menjeritlah

Rupiah menyentuh Rp18.000 per dolar AS, dan kali ini bukan cuma analis atau pelaku pasar yang angkat bicara.

Bimbim, drummer Slank yang dikenal lantang soal kondisi sosial, mengaku langsung merasakan dampaknya. Bukan soal portofolio. Soal stik drum dan senar gitar. "Iya, stick, senar... apa lagi? Dolar naik kita kena apa? Semua. Impor semua itu," kata Bimbim saat ditemui di Markas Potlot, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026). Kekhawatirannya bukan berlebihan. Sebagian besar perlengkapan musik profesional di Indonesia masih mengandalkan produk luar, artinya setiap kenaikan dolar diterjemahkan langsung ke harga eceran.

"Kita terdampak karena alat musik, kebutuhan sehari-hari kayak senar, stick drum itu masih impor semua. Jadi ya kita menjeritlah kalau dollar naik," tambahnya. Bukan keluhan kecil.

Maia Estianty pun menyuarakan keresahan serupa lewat doa atas kondisi nilai tukar yang terus tertekan. Respons publik figur semacam ini agaknya mencerminkan sesuatu yang lebih dalam: pelemahan rupiah kali ini terasa personal, bukan sekadar angka di layar Bloomberg.

Bimbim menarik perbandingan ke krisis moneter 1998, tapi ia melihat satu perbedaan krusial soal ruang ekspresi. Selama seni, lagu, dan kebebasan berpendapat masih hidup, masyarakat masih punya katup untuk melepaskan tekanan. "Tapi hari ini, selama seni, budaya, lagu, kebebasan berekspresi enggak dibungkam, aku rasa masih bisa menenangkan masyarakat. Tapi kalau dilarang, dibungkam, mungkin bisa meledak," tegasnya. Kalimat yang, kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin sentimen sosial, lebih keras dari banyak pernyataan ekonom mana pun soal risiko gejolak mata uang.

Dari sisi pasar, level Rp18.000 bukan angka main-main. Batas psikologis yang selama ini dihindari para pembuat kebijakan. Tekanan terhadap rupiah datang dari kombinasi yang sudah akrab: penguatan dolar global, ketidakpastian dagang, dan sentimen risk-off yang membuat modal asing enggan parkir di aset emerging market.

Yang jarang terdengar sekeras ini adalah cerita dari lapisan yang selama ini absen dalam diskusi nilai tukar. Pelaku industri kreatif, musisi, content creator yang bergantung pada perangkat impor, semuanya dihajar bersamaan. Ini bukan fenomena baru, tapi suaranya baru kali ini sampai ke permukaan dengan cukup nyaring.

Pertanyaannya sekarang: sampai mana Bank Indonesia bersedia membiarkan rupiah bergerak sebelum intervensi yang lebih agresif dilakukan?