RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Rupiah Rp 18.030 per Dolar, Mahasiswa Bakar Uang M...

Finansial

Rupiah Rp 18.030 per Dolar, Mahasiswa Bakar Uang Mainan di BI Jateng

Aliansi BEM SI Jawa Tengah menggelar aksi simbolik membakar uang mainan di depan kantor Bank Indonesia Jateng sebagai protes atas pelemahan rupiah ke level Rp 18.030 per dolar AS, rekor terlemah sepanjang sejarah Indonesia.

Protes Rupiah Melemah, BEM SI Bakar Uang Tiruan | tempo.co

Rupiah menyentuh Rp 18.030 per dolar AS, dan bagi sebagian mahasiswa, angka itu bukan sekadar data di layar Bloomberg. Kamis sore (5/6/2026), ratusan mahasiswa dari Semarang dan Solo yang tergabung dalam BEM Seluruh Indonesia (SI) Jawa Tengah turun ke halaman kantor Bank Indonesia Jateng, membawa uang mainan, lalu membakarnya sambil melantunkan doa kematian.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Bukan untuk orang, tapi untuk rupiah.

Peserta aksi datang dari sejumlah kampus: Politeknik Negeri Semarang (Polines), Poltekkes Semarang, dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Mereka tiba sekitar pukul 17.00 WIB, membawa poster bertuliskan 'RIP Rupiah Sekarat' dan membentangkan spanduk 'Turut Berduka Cita Atas Matinya Rupiah'. Uang mainan disebar di atas banner itu, dibakar, sebelum massa kemudian menempeli kantor BI dengan garis kuning-hitam berbentuk silang layaknya garis polisi. Penyegelan simbolis.

Theatrikal, memang. Tapi pesannya keras.

Presiden BEM Polines, Kevin Kurnia Priambodo, menyebut level Rp 18.030 per dolar AS sebagai kurs terlemah dalam sejarah Indonesia, bukan sekadar angka teknikal. Kevin bilang ia sempat mewawancarai pedagang dan tukang parkir di sekitar kampus, dan respons mereka seragam: sekarang susah, apa-apa mahal, konsumsi makin sedikit. Kekhawatiran itu nyata. Masyarakat bawah masih sangat bergantung pada komoditas impor, dari kedelai hingga BBM, yang harganya otomatis ikut terkerek saat rupiah amblas.

Ketua BEM UNS, M Kailani Rizqy Pratama, lebih blak-blakan. Narasi pemerintah soal kondisi ekonomi yang "aman dan terkendali" ia tolak mentah-mentah. "Ini menjadi satu ungkapan kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto atas kegagalannya dalam menjaga ekonomi Indonesia dengan bukti kenaikan dollar Rp 18.000," kata Kailani di sela aksi. Ia juga menagih janji 19 juta lapangan kerja yang para demonstran nilai belum kunjung terwujud, lalu melontarkan tantangan yang agaknya sulit dijawab pemerintah saat ini: "Ayo coba kita saksikan bersama, kalau bisa kita bertaruh di sini. Lebih dulu 19 juta lapangan pekerjaan atau lebih dulu kurs rupiah Rp 19 ribu?"

Soal pembakaran uang mainan, Kailani tak mau disalahartikan. "Pembakaran uang mainan adalah suatu bentuk manifestasi terhadap permainan-permainan pemerintah terhadap ekonomi. Ini bukan penghinaan, tetapi simbol agar asap-asap yang ada di sini tercium sampai Istana Negara," tegasnya.

Dua program unggulan pemerintah ikut kena semprot. Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih bukan sekadar dikritisi soal substansinya, tapi soal tata kelola dan tendensi egosentris yang lahir dari implementasinya. Kevin yang mengangkat soal ini, dan ia memilah dengan cukup hati-hati: bukan program MBG-nya yang dipersoalkan, tapi cara jalan dan dampak ikutannya.

Mahasiswa memberi pemerintah tenggat 18 hari untuk memperbaiki kondisi ekonomi. Angka itu bukan kebetulan, melainkan cermin langsung dari level kurs saat ini. Simbolik? Jelas. Jarang ada ultimatum semacam ini punya gigi di ranah kebijakan moneter, entah kebetulan atau tidak, tapi tekanan jalanan yang makin terbuka seperti ini punya caranya sendiri untuk mengganggu konsenterasi pengambil keputusan.

Pertanyaan yang lebih relevan buat pelaku pasar bisa jadi justru ini: kalau tekanan sosial atas pelemahan rupiah sudah sampai level aksi jalanan di kota-kota besar, seberapa lama ruang gerak Bank Indonesia untuk menahan suku bunga masih tersisa?