SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Rupiah Nyungsep ke Rp17.744, BI Klaim Cadev Masih...

Finansial

Rupiah Nyungsep ke Rp17.744, BI Klaim Cadev Masih Aman di Atas Standar IMF

Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke Rp17.744 per dolar AS, sementara cadangan devisa April 2026 turun jadi 146,2 miliar dolar AS. BI menyebut fundamental kuat, tapi tekanan musiman dan sentimen global masih mendominasi.

Cadev Kuat di Tengah Pelemahan Rupiah, BI: Di Atas Standar IMF

Rupiah belum juga menemukan pijakan yang solid. Senin (25/5/2026), nilai tukar mata uang Garuda ditutup melemah 27 poin ke level Rp17.744 per dolar AS, melanjutkan tren pelemahan yang sudah berlangsung beberapa pekan terakhir.

Bank Indonesia tampil beda: optimistis. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyebut sudah melihat potensi pembalikan, mengacu pada dua faktor utama. Yang pertama fundamental ekonomi domestik, yang kedua meredanya sentimen global. "Yang pertama adalah fundamental. Itu kan mengacu kepada ekonomi negara. Alhamdulillah, pertumbuhan di triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen. Which is tertinggi untuk beberapa negara kawasan gitu," kata Destry dalam acara Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5).

Tapi klaim fundamental kuat itu agaknya belum cukup untuk melawan arus permintaan dolar yang sedang membuncah. Destry sendiri mengakui ada faktor musiman yang tidak bisa diabaikan: repatriasi dividen di paruh tahun pertama, ditambah musim haji yang menyedot kebutuhan dolar secara masif. "Jadi memang kebutuhan dolar AS, sangat tinggi. Antara suplai dan permintaan, enggak imbang. Permintaan sedang tinggi. Kemudian juga return spread di AS, sekarang mulai melebar," akuinya. Bak gayung bersambut, sentimen global yang masih gonjang-ganjing ikut menghantam dari sisi lain.

Dari sisi cadangan devisa, gambarnya tidak sepenuhnya menenangkan. Per April 2026, BI mencatat cadev sebesar 146,2 miliar dolar AS, turun 2 miliar dolar dari posisi Maret 2026 yang sebesar 148,2 miliar dolar AS. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyebut angka ini setara sekitar 114 persen dari ukuran kecukupan cadangan devisa berdasarkan standar IMF, klaim yang masih perlu dibuktikan ketahanannya kalau tekanan kurs berlanjut.

Yang lebih menarik perhatian justru trennya. Sejak Maret 2025, ketika cadev menyentuh puncak 157,1 miliar dolar AS, angkanya bergerak turun dengan beberapa kali interupsi kenaikan kecil. Desember 2025 sempat memantul ke 156,5 miliar dolar AS. Tapi begitu memasuki 2026, tren negatif kembali dominan: Januari di 154,6 miliar, Februari 151,9 miliar, Maret 148,2 miliar, dan kini April 146,2 miliar. Dalam empat bulan pertama 2026, cadev sudah tergerus lebih dari 10 miliar dolar AS. Bukan angka yang kecil.

Di sisi eksternal, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mencatat rupiah terus tergerus meski sentimen geopolitik global mulai sedikit mencair. Kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran disebutnya semakin dekat, meski persoalan blokade Selat Hormuz masih jadi ganjalan. Angin segar dari luar, kalau data ini bisa dipercaya, belum cukup kencang untuk mendorong rupiah kembali ke jalur penguatan.

Pertanyaannya sekarang: sampai kapan BI bisa mengandalkan narasi "cadangan masih kuat" untuk menjaga kepercayaan pasar, sementara angkanya sendiri terus menipis setiap bulan?