RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Rupiah Nyaris Rp18.000, Kelas Menengah yang Paling...

Ekonomi

Rupiah Nyaris Rp18.000, Kelas Menengah yang Paling Kena Getahnya

Nilai tukar rupiah sudah menyentuh Rp17.956 per dolar AS dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000. Dari kandang ayam di Jawa Timur sampai dompet kelas menengah perkotaan, dampaknya mulai terasa.

Risiko Besar jika Rupiah Tembus Rp18.000, Siapa yang Dirugikan?

Rupiah sudah menempel di angka Rp17.956 per dolar AS, dan pelaku pasar mulai gelisah menunggu apakah level Rp18.000 bakal jebol.

Bukan sekadar angka di layar terminal Bloomberg. Kepala Pusat Makroekonomi Indef, M Rizal Taufikurahman, menegaskan pelemahan yang terus berlangsung ini bukan semata soal dolar yang perkasa. Ada faktor global, penguatan dolar, suku bunga tinggi AS, ketegangan geopolitik. Tapi di balik itu semua, pasar juga mulai mempertanyakan kondisi fiskal domestik, arus modal yang belum cukup deras masuk, dan ketahanan ekonomi yang agaknya mulai diragukan investor asing.

Dampaknya sudah terasa sampai ke level paling konkret. Di Jawa Timur, Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak mengakui peternak ayam petelur mulai mengeluhkan kenaikan biaya pakan. Ironisnya, jagung sebagai bahan utama sebagian besar dipasok dari dalam negeri, tetapi efisiensi logistik yang belum optimal membuat tekanan kurs tetap merembet ke ongkos produksi. Belum lagi suku cadang elektronik dan komponen kendaraan bermotor yang hampir sepenuhnya bergantung pada impor.

Sektornya panjang. Obat-obatan, BBM, elektronik, transportasi dan logistik, semuanya punya kandungan impor yang tidak kecil. Begitu rupiah tergerus, biaya bahan baku industri ikut naik. Yang terjadi selanjutnya persis seperti yang oleh ekonom disebut imported inflation: kenaikan harga yang lahir bukan dari dalam, melainkan dipaksa masuk oleh melemahnya mata uang sendiri.

"Kenaikan harga sering kali lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan," kata Rizal. Kalimat pendek itu menyimpan sesuatu yang menyakitkan bagi kelas menengah. Mereka tidak cukup miskin untuk dapat subsidi, tapi tidak cukup kaya untuk kebal dari inflasi.

Pemprov Jatim merespons dengan mendorong optimalisasi produksi pangan lokal dan memperketat pemantauan harga bahan pokok di pasar tradisional. Langkah yang wajar, meski bersifat defensif. Prioritas utama, kata Emil, adalah memastikan stabilitas harga pangan tetap terjaga seoptimal mungkin.

Untuk mencegah rupiah betul-betul jebol, Rizal menyebut pemerintah pusat dan Bank Indonesia harus bergerak bersamaan. BI perlu menjaga daya tarik aset domestik sekaligus memperkuat stabilisasi nilai tukar, sementara pemerintah dituntut menjaga kredibilitas fiskal agar defisit tidak melebar. Satu poin yang dia tekankan: percepatan masuknya devisa hasil ekspor. Selama dolar hasil ekspor lebih banyak parkir di luar negeri, tekanan terhadap rupiah akan sulit reda.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal apakah Rp18.000 akan tertembus. Melainkan seberapa lama otoritas punya ruang untuk menahan garis itu.