KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Rupiah Makin Dekat Rp18.000, Sendirian di Zona Mer...

Bisnis

Rupiah Makin Dekat Rp18.000, Sendirian di Zona Merah Asia

Saat tujuh dari sepuluh mata uang Asia kompak menguat terhadap dolar AS, rupiah justru melemah 0,25% ke Rp17.975 per dolar dan kembali mengintip level psikologis Rp18.000.

Asia Ramai-Ramai Tendang Dolar: Ringgit-Yen Perkasa, Tapi Rupiah Loyo

Tujuh dari sepuluh mata uang Asia berhasil menguat terhadap dolar AS pagi ini. Rupiah tidak termasuk di dalamnya.

Per pukul 09.15 WIB pada Kamis (2/7/2026), mata uang Garuda melemah 0,25% ke posisi Rp17.975 per dolar AS, berdasarkan data Refinitiv. Angka ini menempatkan rupiah kembali di ambang level psikologis Rp18.000, batas yang selama ini dijaga ketat oleh pelaku pasar sebagai sinyal kewaspadaan.

Yang membuat posisi ini terasa lebih berat: rupiah melemah justru di saat mayoritas tetangganya sedang pesta. Ringgit Malaysia memimpin penguatan Asia dengan kenaikan 0,24% ke MYR 4,082 per dolar. Yuan China menguat 0,16%, baht Thailand naik 0,12%, dolar Singapura dan dolar Taiwan masing-masing menguat 0,08%. Bahkan yen Jepang, yang berbulan-bulan jadi bulan-bulanan pasar forex, ikut naik tipis 0,04%, meski posisinya masih berseliweran di area terlemah dalam 40 tahun terakhir.

Hanya won Korea Selatan yang menemani rupiah di zona merah. Won melemah 0,13% ke KRW 1.552,7 per dolar. Bukan teman yang menghibur.

Sentimen yang menahan rupiah agaknya bukan soal fundamental domestik semata. Pasar global masih menahan napas menunggu data nonfarm payrolls AS yang dijadwalkan rilis malam ini. Polling Reuters memperkirakan ekonomi AS menambah 110.000 pekerjaan pada Juni, dengan tingkat pengangguran bertahan di 4,3%. Kalau angkanya melampaui ekspektasi, itu bahan bakar baru bagi dolar.

"Jika data payrolls melampaui ekspektasi pasar, dolar dapat kembali melaju lebih tinggi," kata analis senior Mitsubishi UFJ Bank, Akihiko Yokoo, dalam catatannya yang dikutip Reuters.

DXY, indeks kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, memang melemah tipis 0,04% ke 101,350 pagi ini. Tapi pasar tidak sedang menganggap dolar loyo. Lebih tepatnya, semua menunggu. Data ADP yang rilis sebelumnya mencatat lapangan kerja swasta AS masih bertambah, meski di bawah perkiraan, belum cukup kuat untuk menggerakkan posisi besar ke salah satu arah.

Ada faktor lebih struktural yang menopang dolar. Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini terus membara, ditopang oleh tiga bulan berturut-turut penciptaan lapangan kerja AS yang melampaui konsensus. Di atas itu, arus modal ke aset berbasis dolar juga deras, sebagian besar dipicu euforia kecerdasan buatan yang membuat investor global terus melirik ekosistem teknologi AS.

Ketua The Fed Kevin Warsh memang sempat menyebut ekspektasi inflasi dan tekanan harga mulai mereda dalam beberapa pekan terakhir. Relatif dovish. Tapi pasar belum sepenuhnya percaya.

Bagi pemegang rupiah, level Rp18.000 bukan sekadar angka bulat yang enak dipandang di layar. Itu titik di mana importir mulai berhitung ulang, cicilan utang valas terasa lebih berat, dan Bank Indonesia biasanya bersiap dengan amunisi intervensi. Apakah malam ini data payrolls AS menjadi pemicu yang mendorong rupiah melewati batas itu, atau justru memberikan jeda, jawabannya baru tersedia beberapa jam lagi.