KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Rupiah Loyo, Kemenpar Balik Badan: Ini Peluang, Bu...

Ekonomi

Rupiah Loyo, Kemenpar Balik Badan: Ini Peluang, Bukan Bencana

Di tengah tekanan nilai tukar yang tak kunjung reda, Kementerian Pariwisata justru melihat rupiah lemah sebagai magnet bagi wisatawan asing. Buktinya sudah mulai kelihatan, terutama dari Malaysia dan China.

Kemenpar: Pelemahan Rupiah Jadi Daya Tarik Wisatawan Asing

Sepanjang kuartal pertama 2026, rata-rata pengeluaran turis asing per kunjungan ke Indonesia tercatat US$ 1.345,61, setara Rp 22,87 juta di kurs Rp 16.992 per dolar AS per 31 Maret. Bukan sekadar statistik BPS. Itu cermin betapa menggiurkannya Indonesia bagi wisatawan asing justru di saat rupiah tertekan.

Kementerian Pariwisata tidak mau buang waktu meratapi pelemahan nilai tukar. "Ini peluang, selalu tidak pernah kita tolak, selalu ada tantangan pasti ada peluangnya, peluang pelemahan rupiah ini kita garap," kata Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini di sela 12th Bali and Beyond Travel Fair di Nusa Dua, Jumat (29/5/2026). Logikanya sederhana: ketika rupiah melemah, setiap dolar atau ringgit yang dibawa turis asing mendadak punya daya beli jauh lebih besar. Best value for money, istilah yang Ayu pakai.

Dampak konkretnya sudah terasa. Malaysia jadi contoh paling nyata. Ringgit relatif solid saat rupiah tergerus, dan kunjungan wisatawan Malaysia ke Indonesia pun melonjak, trennya makin kuat setelah eskalasi krisis Timur Tengah ikut mendorong pergeseran destinasi wisata regional. Mereka datang bukan cuma untuk pantai. Jakarta dan Bandung jadi magnet kuliner bagi pelancong Malaysia yang menemukan variasi cita rasa mirip lidah mereka, dengan harga yang terasa "murah banget" dibanding sebelumnya.

China menyusul. Kenaikannya dua digit, sekitar 25 persen, angka yang, jujur saja, cukup mengejutkan. Ayu menyebut anak muda China kini punya anggaran wisata sendiri dan makin akrab dengan platform OTA untuk memesan perjalanan mandiri. Yang menarik, mereka mulai mengalihkan pilihan dari Jepang ke Indonesia, agaknya kombinasi nilai tukar dan selera "anti-mainstream" membuat Indonesia terasa lebih segar sebagai destinasi.

Tapi tidak semua pemandangan cerah. Harga avtur melonjak akibat dinamika geopolitik global, dan maskapai langsung menerjemahkannya jadi tiket yang makin tak ramah di kantong. Wisatawan Eropa kena tampar dua kali: tiket mahal, ditambah rute ke Indonesia yang mengharuskan mereka terbang melewati kawasan Timur Tengah yang masih bergolak. Banyak yang akhirnya menunda atau membatalkan rencana.

Kemenpar merespons dengan pivot strategi. Fokus pemasaran digeser dari mengejar wisatawan jarak jauh di Eropa dan Amerika, beralih ke pasar Asia, ASEAN, dan Australia. Ada trade-off yang tidak bisa disembunyikan: pasar Eropa-Amerika dikenal betah tinggal lama, tiga minggu hingga sebulan, sementara turis Asia cenderung singkat. "Ini harus dikombinasi," kata Ayu, mengakui tarik-ulur yang tidak mudah.

Di lapangan, pelaku usaha pariwisata Bali punya kalkulasi sendiri. I Putu Winastra, Ketua DPD ASITA Bali, menyebut pelemahan rupiah memang berkah bagi operator yang menjual paket dalam mata uang asing. Namun bagi yang bertransaksi dalam rupiah, nilai paket mereka tergerus secara riil. Winastra berharap ada ruang bagi pelaku usaha untuk menjual paket dalam denominasi dolar AS agar kualitas produk bisa dijaga. Asosiasi juga sudah mulai bersiap menyambut libur sekolah dan musim panas Juni dengan mengedepankan produk lokal seperti wisata pengalaman dan budaya.

Satu ironi yang patut dicermati: rupiah melemah, produk impor makin mahal, dan justru itulah momen mendorong produk lokal. "Kalau impor misalnya keju mahal dari sana, jadi bisa keju lokal, wisatawan mancanegara itu menghargai yang lokal sebetulnya," kata Ayu. Pertanyaannya, apakah industri siap bergerak cukup cepat untuk memanfaatkan jendela peluang ini sebelum situasi kurs berbalik arah?