Rupiah membuka perdagangan Selasa (18/8/2026) dengan seret. Pukul 09.08 WIB, data Bloomberg mencatat dolar AS bertengger di Rp 17.850, naik 52 poin atau 0,29% dari penutupan sebelumnya. Sekitar sejam kemudian, angka itu sedikit melunak ke Rp 17.847 per dolar. Tapi tekanan belum benar-benar pergi.
Dolar memang sedang tidak ramah terhadap hampir semua tetangganya. Yuan China dan yen Jepang masing-masing tergerus 0,04%, baht Thailand melemah 0,05%, dolar Singapura terkoreksi 0,01%. Satu yang lolos dari tekanan: ringgit Malaysia, yang justru menguat 0,29% terhadap greenback. Entah kebetulan atau ada faktor domestik Malaysia yang sedang bekerja, anomali itu layak dicermati.
Pasar saham bergerak ke arah sebaliknya. IHSG menguat 1,04% ke 6.468,47 per pukul 10.04 WIB, agaknya mencerminkan selera beli yang belum padam meski kurs terus tertekan. Bagi veteran pasar, divergensi kurs dan indeks seperti ini bukan pemandangan asing, bak skenario yang kerap muncul saat sentimen global sedang campur aduk.
Untuk transaksi valas harian, BCA, Bank Mandiri, dan BNI masing-masing menawarkan tiga lapis kurs: special rate atau e-rate untuk transaksi jumbo yang dinegosiasikan langsung dengan bank, TT counter untuk keperluan di teller cabang, dan bank notes untuk jual-beli uang kertas asing. Selisih antar lapisan bisa cukup terasa, terutama bila transaksinya berskala besar.
Sampai kapan dolar bertahan di atas Rp 17.800? Level psikologis Rp 18.000 belum jebol, tapi jarak ke sana makin tipis. Bagi importir yang belum hedging, setiap hari yang berlalu dengan dolar di kisaran ini adalah ongkos yang terus mengalir.