KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Rupiah di Titik Terendah: Dari Harga Ponsel sampai...

Bisnis

Rupiah di Titik Terendah: Dari Harga Ponsel sampai Cicilan KPR Ikut Terseret

Pelemahan rupiah bukan sekadar angka di layar trading. Efeknya merembet ke rantai pasok, daya beli, dan biaya hidup jutaan orang, dari kota hingga desa.

Kala Mata Uang Garuda Susah Mengepak Sayap

Rupiah sudah di level yang bikin banyak orang tidak nyaman. Bukan cuma trader yang mantengin layar Bloomberg, tapi juga ibu rumah tangga yang tiba-tiba merasa belanjaan bulanannya makin mahal tanpa tahu persis kenapa.

Per pekan ini, rupiah sempat menyentuh Rp17.414 per dolar AS. Tertekan kombinasi risiko geopolitik global dan kuatnya permintaan terhadap greenback sebagai aset aman. Angka itu bukan sekadar rekor di atas kertas, setiap rupiah yang rontok dari nilai tukar artinya biaya impor membengkak, dan biaya impor yang membengkak artinya harga barang di pasar ikut naik.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core), Yusuf Rendy Manilet, menyebut pelemahan rupiah bukan semata isu makroekonomi yang jadi bahan diskusi di seminar. Ini masalah yang berdampak langsung pada kenaikan biaya hidup masyarakat melalui rantai pasok barang dan jasa.

Barang elektronik jadi salah satu yang paling rentan. Ponsel, laptop, komponen chip yang sudah susah didapat sejak disrupsi rantai pasok global, kini harus ditambah beban selisih kurs yang makin lebar. Para importir tidak punya pilihan selain menggeser biaya tambahan itu ke harga jual. Konsumen yang menanggung.

Tapi tekanannya tidak berhenti di gadget. Obat-obatan, BBM, hingga sejumlah komoditas pangan yang masih bergantung bahan baku impor ikut terpapar. Sektor manufaktur domestik yang selama ini mengandalkan komponen luar negeri juga harus putar otak menghadapi pembengkakan biaya produksi. Margin makin tipis.

Daya beli tergerus. Dengan nominal gaji yang stagnan sementara harga-harga merayap naik, konsumen secara riil membawa pulang lebih sedikit dari uang yang sama. Tekanan ini paling terasa pada pemenuhan kebutuhan pokok, bukan barang tersier. Jadi bukan soal tidak bisa ganti iPhone, tapi soal harga beras dan ongkos ke dokter.

Bank sentral, secara teoritis, punya senjata: naikkan suku bunga untuk menarik modal asing masuk, perkuat permintaan rupiah, dan redam inflasi impor. Obat itu ada efek sampingnya, bak pedang bermata dua. Suku bunga yang naik berarti KPR makin mahal, kredit kendaraan ikut naik, modal kerja usaha kecil mengecil. Aktivitas ekonomi bisa melambat persis di saat masyarakat sudah kehabisan ruang gerak.

Sisi ekspor memang secara teknis diuntungkan, produk Indonesia jadi lebih murah di pasar global. Komoditas dan manufaktur berbasis ekspor biasanya merespons positif. Tapi keuntungan ini, kalau data lapangan bisa dipercaya, tidak merata. Banyak eksportir masih mengandalkan mesin dan bahan modal impor dalam proses produksinya. Selisih kurs menguntungkan di satu sisi, tapi menggerus margin di sisi lain, sebuah ironi yang familiar buat siapa pun yang pernah melewati volatilitas 2018.

Faktor pemicunya bukan satu. Inflasi domestik yang tinggi, defisit transaksi berjalan, hingga ketegangan di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dan membuat investor global berbondong ke dolar, semuanya berkontribusi. Rupiah bukan satu-satunya mata uang Asia yang kena. Tapi posisi Indonesia sebagai negara dengan ketergantungan impor yang cukup tinggi membuat dampaknya terasa lebih dalam.

Pertanyaan yang lebih relevan sekarang bukan kapan rupiah balik ke level aman. Seberapa lama daya tahan konsumen dan dunia usaha bisa bertahan kalau posisi ini berlangsung beberapa kuartal, itu yang perlu dijawab.