RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Rupiah di Persimpangan: Tergerus Terdalam di Asia...

Finansial

Rupiah di Persimpangan: Tergerus Terdalam di Asia Sepanjang 2026

Mata uang Asia bergerak variatif sepanjang pekan ini di tengah tarik-menarik antara data inflasi AS yang melandai dan eskalasi konflik Iran-AS yang kembali memanas. Rupiah tercatat sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia sepanjang 2026 meski dalam dua hari terakhir sempat memimpin penguatan.

Dolar Melemah, Asia Terbelah: Rupiah-Won Melemah, Ringgit-Yen Perkasa

Sepanjang pekan ketiga Juli 2026, rupiah menjalani ritme yang tidak menentu: melemah tipis di Kamis pagi, memimpin penguatan Asia keesokan harinya, lalu tergelincir lagi ke zona merah pada Selasa (21/7). Fluktuasi harian ini mungkin tidak dramatis. Tapi tarik ke perspektif yang lebih panjang, gambarnya cukup bikin tidak nyaman.

Secara year-to-date, rupiah masih jadi mata uang dengan pelemahan terdalam di antara mata uang utama Asia, tergerus sekitar 7,72% dari posisi akhir 2025. Angka yang cukup besar untuk sebuah mata uang yang pemerintahnya berulang kali menyebut fundamental ekonomi domestik masih solid. Di bawahnya ada rupee India dengan koreksi 6,63%, baht Thailand 6,36%, dan peso Filipina 4,59%. Yuan China justru satu-satunya mata uang Asia yang menguat terhadap dolar sepanjang tahun ini, naik sekitar 3,23%.

Pada Kamis (16/7), rupiah melemah tipis 0,04% ke Rp18.068 per dolar AS. Level yang membuat pasar tetap waspada karena masih berseliweran di sekitar angka psikologis Rp18.000. Tekanan lebih dalam justru dialami won Korea Selatan yang amblas 0,18% ke KRW 1.487,6, ironisnya tepat setelah Bank of Korea menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 2,75%. Pasar rupanya tidak terkesan. Atau bahkan membaca kenaikan suku bunga itu sebagai sinyal kekhawatiran, bukan keyakinan.

Satu hari kemudian, Jumat (17/7), narasi berbalik. Rupiah menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia, terapresiasi 0,17% ke Rp17.950 per dolar. Won ikut menguat 0,15%, sementara ringgit Malaysia yang sehari sebelumnya menjadi bintang Asia berbalik melemah 0,20%. Giliran pasar berganti arah.

Selasa (21/7), rupiah kembali masuk zona merah, melemah tipis 0,02% ke Rp17.933 per dolar. Kali ini bersama won dan beberapa mata uang Asia lain, sementara ringgit kembali memimpin penguatan dengan naik 0,07% ke MYR 4,087. Dolar Singapura juga menguat 0,06%. Pola berulang ini mencerminkan satu hal: pasar Asia sedang tak punya pegangan yang jelas.

Akar volatilitas ini ada di dua kutub yang saling tarik. Pertama, data inflasi AS yang terus melandai. Indeks harga produsen (PPI) turun tak terduga pada Juni, penurunan terbesar dalam 14 bulan terakhir, melengkapi data CPI yang juga di bawah ekspektasi. Kombinasi ini menggusur peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Juli dari 45% di awal pekan menjadi hanya 11%. Proyeksi kenaikan suku bunga hingga Desember pun dipangkas dari 44 basis poin menjadi sekitar 26 basis poin.

Di kutub seberangnya: Iran. Amerika Serikat menyerang pertahanan pesisir dan situs rudal Iran pada Rabu (15/7), setelah memberlakukan kembali blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Teheran mengancam menghentikan ekspor energi kawasan dan menyebut negaranya menghadapi perang eksistensial. Harga minyak Brent naik hari keempat berturut-turut, mendekati US$85,28 per barel. Kelompok Houthi Yaman yang berafiliasi Iran bahkan mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Eskalasi yang membuat kekhawatiran soal pasokan energi global bukan sekadar wacana.

Implikasinya terasa sampai ke pasar obligasi. Yield Treasury AS tenor 10 tahun masih bertengger di 4,5937%, sementara tenor 30 tahun kokoh di atas 5%. Yield tinggi ditambah potensi inflasi energi memberi dolar AS pijakan yang sulit digeser, meski indeks dolar (DXY) tercatat melemah 0,24% sepanjang pekan ini. Posisinya masih dekat level tertinggi sepekan pada perdagangan Selasa. Bukan pelemahan yang meyakinkan.

Bosco Wu, investment strategist Bank of East Asia, menilai pelemahan dolar sebagai koreksi teknikal, bukan perubahan arah. "Pelemahan dolar baru-baru ini tampaknya merupakan koreksi dari level tertinggi sebelumnya. Pasar sebelumnya terlalu agresif memperhitungkan kenaikan suku bunga Juli, yang kini terlihat agak berlebihan mengingat inflasi mendingin dengan cepat," kata Wu, dikutip Reuters. Namun ia menegaskan, satu bulan data inflasi yang lebih rendah belum cukup untuk memastikan tekanan harga benar-benar mereda secara berkelanjutan.

Senada, OCBC menilai dolar AS masih punya keunggulan struktural sebagai mata uang aset aman dengan imbal hasil tertinggi di antara negara-negara G10, keunggulan yang agaknya tidak akan hilang selama konflik Timur Tengah belum reda.

Rodrigo Catril, senior currency strategist National Australia Bank, merangkumnya singkat. "Ada harapan bahwa ketegangan sedikit mereda dan pada titik tertentu kita akan menekan tombol jeda. Semuanya masih sangat volatil," ujar Catril, dikutip Reuters. Pasar, katanya, masih harus menunggu apakah konflik bakal membesar atau justru mereda.

Buat pemegang rupiah, kondisi ini ibarat berdiri di atas rakit di tengah arus deras. Bukan berarti rakit akan terbalik, tapi berdiri tegak pun butuh usaha ekstra. Dengan beban pelemahan terdalam di Asia sepanjang tahun ini, setiap angin negatif dari luar langsung terasa di kurs.