Rupiah membuka perdagangan dengan nada positif, menguat 21 poin atau 0,12 persen ke level Rp18.070 per dolar AS pada Rabu pagi, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp18.091. Momentum ini terbawa ke Kamis pagi: kurs tercatat Rp18.071 per dolar AS sekitar pukul 10.10 WIB, sementara IHSG ikut terkerek tipis 0,24 persen ke 6.057,53.
Katalisnya datang dari Washington. Inflasi konsumen tahunan AS melambat ke 3,5 persen pada Juni 2026, turun dari 4,2 persen di bulan sebelumnya, dan berada di bawah ekspektasi pasar. Secara bulanan, Indeks Harga Konsumen bahkan amblas 0,4 persen, penurunan terbesar sejak April 2020. Inflasi inti pun ikut jinak: stagnan secara bulanan, melambat ke 2,6 persen per tahun dari 2,9 persen.
"Landainya inflasi AS didorong oleh penurunan harga minyak bulan Juni saat dijalankannya gencatan senjata AS dan Iran," kata Rully Nova, analis Bank Woori Saudara. Yield obligasi pemerintah AS ikut tergerus seiring memudarnya ekspektasi kenaikan Fed rate dalam waktu dekat. Pola klasik yang selalu menguntungkan mata uang negara berkembang.
Dari sisi domestik, pelaku pasar masih wait and see menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Konsensus sementara mengarah ke skenario hold, dengan suku bunga acuan diperkirakan tetap di 5,75 persen. Bukan kejutan. Tapi cukup untuk meredam kegelisahan jangka pendek.
Rully memperkirakan rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.105 per dolar AS. Batas bawah yang agaknya ambisius, mengingat tekanan struktural terhadap rupiah belum benar-benar reda. Kurs di Mandiri, BCA, dan BNI pagi ini bergerak di sekitar Rp18.071, angka yang untuk sementara masih jadi titik pijak pasar.
Apakah data inflasi AS ini cukup untuk mengubah arah The Fed secara permanen, atau sekadar jeda sebelum tekanan berikutnya datang? Pasar valas, seperti biasa, tidak akan sabar menunggu.