Rupiah yang bertengger di kisaran Rp17.749 per dolar AS pada Selasa (26/5/2026) bukan sekadar angka di layar trading. Bagi ribuan buruh di sektor manufaktur, setiap sentimeter penurunan nilai tukar berarti biaya produksi yang makin berat, dan ujungnya bisa satu: PHK.
KSPI sudah melihat sinyal ini dengan cukup jelas. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia Said Iqbal mengatakan industri yang bergantung pada bahan baku impor praktis membayar lebih mahal setiap kali rupiah tergerus, karena transaksi bahan baku pakai dolar. "Harga rupiah yang ambruk terhadap dolar juga karena bahan baku impor membelinya pakai dolar, sehingga meningkat ongkos produksinya," kata Said dalam konferensi pers daring, Senin (25/5/2026). Tekanan, kata dia, bukan datang dari satu arah: kurs yang amblas dan konflik geopolitik global mendorong harga BBM industri nonsubsidi ikut merangkak.
Kasus paling nyata datang dari Depok, Jawa Barat. PT Xacti Indonesia, pabrik elektronik yang kini resmi tutup, merumahkan sekitar 350 pekerjanya. KSPI menyebut penutupan ini cerminan langsung dari tekanan biaya impor yang tak lagi bisa ditanggung, ditambah melemahnya pasar ekspor yang jadi andalan. Pemerintah, lewat Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor, masih menindaklanjuti laporan tersebut. Yassierli sendiri mengaku belum menerima update dari wakilnya.
Xacti bukan satu-satunya. Di Sidoarjo, Jawa Timur, CV Asri yang bergerak di sektor otomotif sudah memangkas sekitar 200 pekerja. Logikanya sederhana tapi menyakitkan: komponen impor mahal, harga kendaraan naik, konsumen menahan beli, penjualan anjlok. "Akibat harga mobil naik, permintaan untuk membeli mobil dan motor menurun. Mau nggak mau perusahaan melakukan PHK," ungkap Said. Sektor tekstil, garmen, dan alas kaki pun mulai merasakan tekanan serupa. KSPI memperkirakan potensi PHK di ketiga sektor itu bisa mencapai 9.000 pekerja dalam tiga bulan ke depan. Angka yang tidak main-main, mengingat tiga sektor ini selama ini jadi penyerap tenaga kerja terbesar di industri formal.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan koordinasi lintas kementerian terus berjalan di bawah komando Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. "Kita lintas kementerian, kita satu tim. Kita satu tim kita terus monitor," ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta. Ia mencontohkan respons terhadap isu keterbatasan gas, yang ditangani lewat relaksasi pajak sebagai bukti pemerintah bergerak. Apakah langkah-langkah itu cukup untuk membendung gelombang PHK yang sudah mulai terbentuk, agaknya masih jadi pertanyaan terbuka.
Satgas PHK yang sudah lama dinantikan kalangan buruh pun belum punya tanggal peluncuran pasti. "Satgas PHK, kita tunggu momen launching-nya. Ini lagi menunggu momen launching-nya," kata Yassierli, singkat. Bak gayung bersambut, KSPI berencana membawa persoalan ini ke DPR RI agar tekanan dari jalur legislatif ikut mempercepat respons kebijakan.
Bagi investor yang pegang saham di sektor tekstil, otomotif, atau elektronik berbasis impor, deretan angka ini layak dijadikan sinyal awal untuk mereview eksposur portofolio. Ketika buruh sudah bicara 9.000 PHK dalam tiga bulan dan pabrik-pabrik mulai tutup satu per satu, itu bukan lagi risiko di atas kertas. Sudah terjadi.