Satu orang. Satu studio. Satu game yang kini sedang ramai dibicarakan komunitas gamer global, termasuk di Jepang yang punya standar sangat tinggi untuk genre simulasi kereta.
Running Train, game simulasi kereta buatan Novatetsu Games, resmi masuk Steam Early Access pada 24 Mei 2026 dengan harga Rp206.100. Di balik seluruh proyek ini hanya ada satu nama: Rizky Nova, atau "Rizu", solo developer asal Indonesia yang selama ini aktif di komunitas pengembang game dan train simulator Jepang.
Rizky mengerjakan hampir segalanya sendiri, dari pemrograman, desain lingkungan, sampai pemodelan 3D. Hasilnya tidak main-main. Visual game dibangun di atas Unreal Engine 5, dan yang keluar terasa seperti karya studio besar, bukan proyek satu orang di kamar.
Begitu masuk Steam, respons komunitas langsung meledak. Rating "Overwhelmingly Positive" dengan sekitar 98 persen ulasan positif bukan angka yang lazim, bahkan untuk game dari studio mapan sekalipun. Yang bikin ini lebih menarik: banyak ulasan tersebut ditulis dalam bahasa Jepang, langsung dari pemain di Negeri Sakura yang memang punya kedekatan emosional tinggi dengan genre ini.
Salah satu gamer Jepang menyebut Running Train sebagai simulator kereta paling indah yang pernah dirilis. Pujian lain mengalir ke detail pencahayaan dan sistem cuaca yang dinilai terasa luar biasa realistis. Di forum Reddit komunitas train simulator, seorang pengguna menulis, "This is what a train sim should look like in 2026." Kalimat pendek, tapi berat maknanya bagi genre yang selama ini didominasi judul-judul dari Eropa dan Jepang.
Media game internasional Kotaku ikut angkat suara, menyebut Running Train sebagai salah satu train simulator paling realistis yang pernah dibuat seorang solo developer. Pengakuan dari Kotaku bukan hal sepele. Media itu sehari-hari meliput game dari studio dengan ratusan karyawan, dan jarang repot-repot menoleh ke proyek indie dari Asia Tenggara.
Meski berlatar jalur fiksi Jepang bernama Hayamori Railway dan Kofuku Railway, dua jalur tersebut terasa sangat otentik. Lebih dari 40 kilometer jalur tersedia untuk dijelajahi, mencakup lanskap pedesaan, garis pantai, hingga area berbunga sakura. Pemain berperan sebagai masinis, menjalankan kereta dengan pengalaman imersif yang diperkuat dukungan controller khusus seperti Zuiki MasCon dan Densha de GO Controller. Bukan sembarang pilihan aksesori, ini detail yang hanya dipikirkan oleh seseorang yang benar-benar paham kultur train simulator Jepang dari dalam.
Karena statusnya masih Early Access, sejumlah fitur belum hadir sepenuhnya. Sistem penumpang, conductor mode, dan penambahan jalur lebih panjang masih dalam pengerjaan, dengan target rilis versi penuh sekitar 2027. Tapi agaknya komunitas sudah cukup puas dengan apa yang ada. Versi awal ini, kata banyak pemain, sudah solid untuk ukuran proyek indie solo. Solid, bahkan untuk ukuran yang lebih dari itu.
Running Train bukan sekadar game yang bagus. Ini bukti bahwa talenta lokal, kalau diberi ruang dan waktu yang cukup, bisa menghasilkan sesuatu yang membuat komunitas global berhenti sejenak dan melirik Indonesia.