SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Rumor Pembatasan Ekspor RI Bikin Harga CPO Malaysi...

Bisnis

Rumor Pembatasan Ekspor RI Bikin Harga CPO Malaysia Terbang Tiga Hari Beruntun

Harga kontrak CPO di Bursa Malaysia Derivatives melonjak untuk hari ketiga berturut-turut pada Selasa (19/5), dipicu spekulasi Jakarta tengah menyiapkan kebijakan pembatasan ekspor komoditas strategis termasuk sawit.

Harga Kontrak CPO di Bursa Malaysia Melambung Akibat Rumor Pembatasan Ekspor RI

Tiga hari berturut-turut harga CPO menguat di Bursa Malaysia Derivatives, dan pemicunya bukan dari Kuala Lumpur, melainkan dari Jakarta. Lebih tepatnya dari rumor yang belum terkonfirmasi soal rencana pembatasan ekspor komoditas strategis oleh pemerintah Indonesia.

Pada penutupan Selasa (19/5/2026), seluruh lini kontrak berjangka kompak terkerek. Kontrak Juni 2026 naik 49 Ringgit Malaysia ke 4.540 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Juli 2026 melesat 49 Ringgit Malaysia ke 4.571, sementara Agustus 2026 mencatat kenaikan tertinggi, 51 Ringgit Malaysia, menembus 4.585 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak September hingga November 2026 bergerak di rentang 4.589 hingga 4.609 Ringgit Malaysia per ton, dengan kenaikan antara 47 hingga 48 Ringgit Malaysia.

Logikanya sederhana: Indonesia eksportir sawit terbesar di dunia. Setiap isu kebijakan domestik langsung menghantam persepsi pasokan global. Kalau rumor itu benar, pasar sudah tahu harga ke mana.

Sampai berita ini ditulis, Reuters belum bisa memverifikasi spekulasi tersebut. Tapi pasar, seperti biasa, tidak menunggu konfirmasi resmi untuk bereaksi. Seorang trader berbasis di Kuala Lumpur menyebut skenario yang sudah bisa ditebak: "Jika rumor itu benar, permintaan akan berpindah ke Malaysia dan mendukung harga."

Rumor ini juga merambat ke Bursa Efek Indonesia. IHSG melanjutkan tekanan yang sudah berlangsung sepekan, dengan saham sektor pertambangan dan emiten perkebunan sawit paling dihajar. Agaknya pelaku pasar lokal menilai ketidakpastian kebijakan ini sebagai risiko yang belum bisa dihitung.

49 Ringgit Malaysia. Angka yang sama, dua kontrak berbeda. Bukan kebetulan.

Penguatan CPO juga mendapat angin dari pasar minyak nabati China. Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai paling aktif naik 1,67%, kontrak minyak sawit menguat 1,76%. Chicago Board of Trade sedikit berbeda arah, minyak kedelai terkoreksi tipis 0,42%, tapi pengaruh pasar China cukup dominan untuk menjaga sentimen keseluruhan tetap positif. Harga minyak sawit memang hampir selalu bergerak beriringan dengan minyak nabati pesaingnya, karena keduanya saling berebut pangsa di pasar global.

Malaysian Palm Oil Council memperkirakan harga CPO bisa bertahan di kisaran 4.400 Ringgit Malaysia per ton sepanjang Juni 2026, ditopang regulasi biofuel global yang menjaga permintaan tetap solid serta risiko cuaca yang belum sepenuhnya mereda. Secara teknikal, harga sedang menguji resistance di 4.584 Ringgit Malaysia per ton. Kalau level itu berhasil ditembus, target berikutnya ada di rentang 4.634 hingga 4.669 Ringgit Malaysia per ton.

Pertanyaan yang lebih relevan buat investor saham sawit di Jakarta: seberapa lama momentum ini bertahan jika rumor pembatasan ekspor akhirnya tidak terbukti? Kalau data ini bisa dipercaya, pasar sudah terlanjur bergerak jauh di depan faktanya.