Pembiayaan pinjaman daring atau pindar ke sektor UMKM menembus Rp35,12 triliun hingga akhir Juni 2026, tumbuh 23,25 persen secara tahunan. Total outstanding industri pindar sendiri tercatat Rp105,14 triliun, artinya sekitar sepertiga dari seluruh penyaluran sudah mengalir ke pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Bukan angka kecil.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, menyebut pertumbuhan itu perlu diikuti peningkatan kualitas pembiayaan agar dana yang disalurkan benar-benar punya dampak produktif bagi masyarakat. Bukan sekadar menambah tumpukan cicilan bagi pelaku usaha kecil yang modalnya sudah tipis.
Pertanyaannya: sudahkah industri ini cukup matang untuk mengelola ekspansi secepat ini?
Angka TWP90 atau tingkat wanprestasi di atas 90 hari berada di level 4,26 persen per Juni 2026. Bukan darurat, tapi juga bukan sesuatu yang bisa dikesampingkan begitu saja. Kalau outstanding terus dikejar agresif sementara kualitas kredit mandek atau melorot, skenario ini bak pedang bermata dua bagi platform yang terlalu bernafsu mengejar volume.
Pelaku UMKM yang tidak punya agunan memadai, rekam jejak keuangan tipis, atau butuh dana cepat dalam hitungan hari, agaknya tidak punya banyak pilihan selain platform digital. Pindar mengisi celah yang selama ini tidak terjangkau perbankan konvensional. Di sinilah relevansi industri ini terasa bukan sekadar tren sesaat, melainkan kebutuhan struktural yang nyata.
Dari sisi regional, gambaran pertumbuhan tidak seragam. Pembiayaan program Samir di kawasan Bali dan Nusa Tenggara mencatat lonjakan 66 persen hingga Juli 2026, menembus Rp85 miliar. Angka itu mencerminkan betapa cepatnya penetrasi pembiayaan digital masuk ke daerah yang selama ini diasumsikan tertinggal dalam akses keuangan formal.
OJK terus mendorong industri pindar memperluas akses pembiayaan berkualitas dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, tata kelola, dan perlindungan konsumen. Tiga hal yang, entah kebetulan atau tidak, kerap jadi korban pertama ketika platform digital terlalu fokus mengejar pengguna baru.
Bagi investor yang mengamati sektor fintech lending, data ini memberi sinyal yang tidak bisa dibaca searah. Pertumbuhan pembiayaan UMKM yang konsisten di atas 20 persen YoY jelas menarik. Tapi dengan TWP90 yang belum menunjukkan tren penurunan, selektif memilih platform dengan kualitas portofolio terukur tetap pekerjaan rumah yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.