RON 92 di Indonesia masih bertengger di kisaran Rp16.000 per liter. Bukan sekadar angka di papan SPBU. Bagi sektor logistik digital yang selama ini dikira terlindungi oleh teknologi, realitasnya jauh lebih pahit dari asumsi itu.
Level harga tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan RON 92 termahal di kawasan Asia Tenggara. Perbandingan inilah yang mulai membuat pelaku industri mempertanyakan daya saing jangka menengah, khususnya di sektor dengan margin operasional setipis logistik dan distribusi.
Ada asumsi yang beredar luas: perusahaan logistik berbasis teknologi lebih terisolasi dari gejolak harga energi ketimbang pemain konvensional. Tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Ketika harga BBM melonjak, biaya transportasi last-mile langsung terkerek, dan tidak ada algoritma optimasi rute yang sanggup menyerap kenaikan di level ini secara penuh.
Yang terjadi di lapangan, perusahaan logistik mulai membebankan fuel surcharge ke pengirim barang, yang ujungnya diteruskan ke konsumen akhir. Rantai ini panjang, sering tak kasat mata, tapi dampaknya nyata pada harga barang di rak.
Tekanan ini justru jadi katalis bagi sebagian operator. Perangkat lunak manajemen rantai pasokan berbasis real-time kini memungkinkan identifikasi konsumsi bahan bakar per rute secara granular. Dari sana, keputusan berbasis data bisa menghasilkan efisiensi yang, dalam kondisi harga BBM normal, agaknya tidak akan pernah jadi prioritas.
Beberapa operator besar sudah selangkah lebih jauh: mengintegrasikan analisis prediktif untuk memperkirakan kebutuhan armada berdasarkan pola permintaan, bukan sekadar histori pengiriman. Kalkulasi internal beberapa perusahaan menyebut pendekatan ini mampu memangkas konsumsi BBM hingga belasan persen tanpa mengorbankan kapasitas. Angka yang tidak main-main.
Tapi tidak semua pemain punya modal dan kapabilitas untuk itu. Perusahaan logistik skala menengah, yang justru jadi tulang punggung distribusi di luar Jawa, masih banyak yang mengandalkan sistem manual atau semi-digital. Mereka yang paling telanjang ketika harga energi bertahan tinggi dalam waktu lama.
Pertanyaannya, berapa lama model bisnis logistik konvensional bisa bertahan di bawah tekanan harga energi yang sifatnya struktural, bukan sekadar siklus? Transisi ke kendaraan listrik untuk armada logistik kerap disebut solusi jangka panjang, tapi infrastruktur pengisian di luar kota besar masih jauh dari layak. Jauh sekali, kalau jujur.
Investasi di energi terbarukan untuk operasional gudang dan pusat distribusi mulai masuk radar beberapa pemain besar. Bisa jadi ini sinyal awal pergeseran model biaya yang lebih mendasar di industri ini. Dengan RON 92 yang kini jadi yang termahal di kawasan, kalkulasi ulang tidak bisa lagi ditunda.