Dua keluhan lama pengguna ROG Xbox Ally X akhirnya dijawab sekaligus. Layar yang terasa sempit dengan bezel tebal, serta tombol "Library" yang kerap menekan diri sendiri di saat paling tidak tepat, keduanya dirombak total di generasi baru ini.
Atas nama perayaan ulang tahun ke-20 Republic of Gamers, Asus memperkenalkan ROG Xbox Ally X20 di Computex 2026 yang berlangsung di Taipei pada 1 Juni lalu. Perangkat ini hadir sebagai bagian dari koleksi ROG Edition 20 yang lebih luas, rangkaian produk eksklusif berdesain hitam-emas yang mencakup motherboard, GPU, PSU, hingga koper gaming.
Perubahan paling mencolok ada di sektor visual. Panel IPS 7 inci yang selama ini dipakai sudah pensiun, digantikan layar OLED 7,4 inci beresolusi 1080p dengan refresh rate 120Hz. Angka kecerahannya patut dicermati: 600 nits untuk konten SDR dan puncak 1.400 nits untuk HDR, melampaui Lenovo Legion Go 2 yang selama ini jadi patokan di segmen ini. Layar ini juga mengantongi sertifikasi VESA DisplayHDR TrueBlack 1000 dan dukungan Dolby Vision, dilindungi Gorilla Glass Victus dengan lapisan anti-glare GG DXC. VRR-nya kini bisa turun sampai 30Hz dari sebelumnya 48Hz. Artinya, game yang frame rate-nya sering anjlok bakal terasa jauh lebih mulus dimainkan.
Di sisi kontrol, tombol "Action" menggantikan "Library" yang legendaris karena sering tidak sengaja dipencet. Satu ketukan mengambil screenshot, tahan lebih lama untuk merekam. Bukan fitur baru di dunia gaming, tapi pengguna lama Ally X pasti akan merasa lega. Joystick kini memakai sensor TMR alias Tunneling Magnetoresistance, diklaim lebih tahan drift dibanding sensor Hall Effect konvensional. D-Pad bisa diputar untuk beralih antara konfigurasi empat arah dan delapan arah, sementara tombol ABXY dirombak agar posisinya lebih rata dengan bodi.
Performa intinya tidak berubah. AMD Z2 Extreme dengan delapan inti, RAM LPDDR5X 24GB berkecepatan 8.000MT/s, dan SSD NVMe PCIe 4.0 berkapasitas 1TB tetap jadi tulang punggungnya. Konektivitas lengkap: dua port USB-C dengan salah satunya mendukung USB 4.0 plus Thunderbolt 4, Wi-Fi 6E, Bluetooth 5.4, dan slot microSD Express. Baterai 80Wh masih sama, didukung pengisian cepat 68W. Bobot naik 41 gram jadi 756 gram dari sebelumnya 715 gram, dimensi sedikit membengkak akibat sistem pendingin baru yang diklaim menjaga suhu layar tetap stabil.
Nah, di sinilah bagian yang bikin sebagian calon pembeli mengernyitkan dahi.
Asus memastikan ROG Xbox Ally X20 tidak dijual sebagai perangkat mandiri. Satu-satunya cara mendapatkannya lewat paket bundel bersama kacamata AR ROG Xreal R1 Edition, perangkat berbasis micro-OLED yang mampu menampilkan layar virtual hingga 171 inci pada refresh rate 240Hz. Kacamata itu sendiri, kalau dibeli terpisah, dibanderol sekitar USD 850 atau Rp 15 jutaan. Asus belum mengumumkan harga bundel resminya. Entah kebetulan atau tidak, strategi bundling ini membuat kalkulasi harga akhir menjadi kabur. Banyak pihak menduga ini cara Asus menyamarkan kenaikan harga handheld yang lumayan gila-gilaan, mengingat pendahulunya dijual USD 1.000.
Sebagai konteks, Ally X20 bukan satu-satunya bintang di booth ROG tahun ini. Asus juga memamerkan ROG Astral GeForce RTX 5090 Edition 20 dengan layar AMOLED lengkung, PSU ROG Thor 3000W Titanium III Edition 20 yang sudah meraih Computex Best Choice Award 2026, hingga desktop ROG G100 dengan kipas holografik yang diklaim pertama di dunia. Semuanya membawa tema sama: hitam, emas, angka 20.
Kapan bundel Ally X20 resmi tersedia dan berapa pastinya harganya, itu pertanyaan yang masih menggantung. Yang jelas, gamer yang sekadar mau upgrade layar dari Ally X lama tanpa ikut-ikutan beli kacamata AR, untuk saat ini belum ada opsinya.