KAMIS, 22 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  RI Tumbuh 5,45%, Destry: Jangan Cuma Lihat Angkany...

Ekonomi

RI Tumbuh 5,45%, Destry: Jangan Cuma Lihat Angkanya

Gubernur BI Destry Damayanti mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di bawah level optimal, tapi mengingatkan perbandingan dengan Vietnam tak bisa hanya dilihat dari satu angka pertumbuhan.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melesat, Inflasi Terjaga

Sepanjang semester I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen secara tahunan. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengakui angka itu belum mencapai level optimal, tapi langsung pasang badan soal narasi bahwa Indonesia "kalah" dari Vietnam.

Vietnam memang mencetak pertumbuhan 8,18 persen di periode yang sama, jauh di atas Indonesia. Tapi Destry meminta publik tidak berhenti di situ. "Kalau kita lihat pertumbuhan, kita memang kalah dengan Vietnam. Tapi kalau kita lihat struktur ekonomi kita, saya kira jauh lebih kuat dan lebih stabil," tegasnya dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis (3/9).

Argumen Destry bertumpu pada variabel yang sering luput dari perbandingan sederhana. Inflasi Indonesia per Juli 2026 tercatat 2,88 persen secara tahunan, masih dalam sasaran BI di kisaran 2,5 persen plus-minus satu persen. Vietnam? Inflasinya sudah di atas 4,5 hingga 5 persen. Defisit fiskal Indonesia pun relatif disiplin, di angka 2,8 persen pada 2025 dan diperkirakan 2,85 persen tahun ini. Rasio utang juga dinilai terjaga. "Jadi kita jangan hanya melihat growth. Kita lihat juga bagaimana inflasi, bagaimana fiskalnya, bagaimana utangnya," ujar Destry.

Perbedaan karakter ekonomi kedua negara memang mencolok. Pertumbuhan Vietnam dalam beberapa tahun terakhir banyak ditopang ekspor dan investasi berorientasi luar negeri, sehingga sangat sensitif terhadap perubahan permintaan global. Indonesia, dengan pasar domestik yang besar, tidak sepenuhnya bergantung pada permintaan eksternal. Agaknya inilah yang dimaksud Destry soal "stabilitas" itu, bukan sekadar angka yang stasioner, tapi ketahanan terhadap guncangan.

Dari data BPS, kinerja sektoral semester I cukup bervariasi. Sektor akomodasi dan makan minum jadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi, menorehkan 11,83 persen. Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah melesat 18,62 persen. Pada kuartal II saja, ekonomi tumbuh 5,29 persen secara tahunan dan 3,73 persen dibanding kuartal sebelumnya. Angka yang tidak main-main.

Destry tak ingin ini dibaca sebagai alasan untuk puas. Pertumbuhan di kisaran 5 persen, menurutnya, justru menunjukkan masih adanya kapasitas yang belum dimanfaatkan. Untuk mendorong pertumbuhan ke level lebih tinggi tanpa mengorbankan stabilitas makro, ia menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, BI, dunia usaha, dan sektor keuangan. "Nah oleh karena itu, kita bergerak bersama-sama dengan kekuatan masing-masing, kita saling melengkapi menuju satu tujuan yang sama," katanya.

BI sendiri menyatakan sistem keuangan masih kuat, likuiditas memadai, dan ruang penyaluran kredit terbuka. Pertanyaannya tinggal satu: apakah dorongan itu akan datang dari sisi permintaan, sisi suplai, atau keduanya sekaligus? Tantangan yang, bisa jadi, lebih sulit dari sekadar mengejar angka pertumbuhan Vietnam.