Bahlil Lahadalia akhirnya mengonfirmasi apa yang selama ini masih jadi tanda tanya pasar energi: Indonesia sudah benar-benar membeli minyak Rusia, setidaknya untuk tahap pertama, dengan harga yang disebut lebih baik dari patokan Brent.
Konfirmasi itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral usai menghadiri Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026, Selasa (21/7/2026). Pengiriman fase awal ini tidak dilakukan lewat mekanisme korporasi biasa, melainkan langsung di bawah koordinasi pemerintah melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi, atau yang lebih dikenal sebagai Lemigas.
"Tahap pertama sudah, dilakukan oleh Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan diperintahkan lewat Lemigas," tegas Bahlil kepada awak media.
Pilihan jalur pemerintah, bukan Pertamina, untuk transaksi awal ini agaknya bukan tanpa alasan. Skema via Lemigas membuka ruang negosiasi yang lebih luwes, sekaligus menjaga jarak dari kerumitan sanksi Barat yang mengikat operasional korporasi dengan eksposur internasional. Apakah ini pola permanen atau sekadar strategi transisi, belum ada kepastian.
Soal pengiriman fisik, Wakil Menteri ESDM masih dalam proses pengecekan. Volume, jadwal pengapalan, spesifikasi crude yang masuk, belum ada yang diungkap ke publik. Bukan angka kecil kalau kita bicara kebutuhan impor minyak mentah Indonesia yang rata-rata menyentuh ratusan ribu barel per hari.
India dan China sudah lebih dulu mengambil peluang minyak Rusia yang diperdagangkan dengan diskon terhadap Brent pascainvasi ke Ukraina. Indonesia baru bergerak sekarang. Entah kebetulan atau tidak, momennya pas ketika tekanan fiskal pada subsidi BBM makin terasa.
Bahlil menyebut prioritas utama Kementerian ESDM saat ini adalah memastikan ketersediaan dan keamanan stok energi nasional. Framing ketahanan energi ini yang jadi justifikasi kebijakan, bukan sekadar argumen efisiensi harga. Klaim harga lebih baik dari Brent itu sendiri masih perlu dibuktikan lewat angka konkret yang belum dirilis. Setidaknya itu klaim manajemen kebijakan per hari ini.