JUMAT, 16 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Reli AI Topang S&P 500 ke Rekor, tapi Analis Mulai...

Finansial

Reli AI Topang S&P 500 ke Rekor, tapi Analis Mulai Keluarkan Kartu Kuning

S&P 500 tutup Mei 2026 di rekor tertinggi, tapi hanya 20 saham yang ikut mencetak all-time high. Pola ini mengingatkan analis pada momen gelembung dot com tahun 2000.

Reli Saham AS Makin Bertumpu pada AI, Analis Ingatkan Risiko Gelembung

Pasar saham AS menutup bulan Mei 2026 dengan catatan yang terlihat gemilang di permukaan, tapi menyimpan keretakan di dalamnya yang makin sulit diabaikan.

Dari 500 anggota S&P 500, hanya 20 saham yang turut mencetak all-time high ketika indeks ditutup di rekor tertinggi pada hari perdagangan terakhir bulan ini. Tujuh di antaranya bahkan tidak punya kaitan langsung dengan artificial intelligence. Secara kasar, reli ini pada dasarnya adalah cerita tentang segelintir saham chip dan AI yang mengangkat satu indeks besar, sementara ratusan saham lain diam di tempat.

Angka itu, entah kebetulan atau tidak, persis seperti yang terjadi pada Maret 2000, ketika pasar saham AS berada di puncak gelembung internet sebelum akhirnya ambruk.

Michael Hartnett, ahli strategi Bank of America yang dikenal vokal soal risiko pasar, menyebut pola ini sebagai sinyal bahwa fase akhir reli mulai mendekat. Ia tidak bilang gelembung sudah pecah, tapi klien-kliennya kini mulai diberi panduan untuk skenario setelahnya. "Peta jalan investor pasca-gelembung sejak tahun 1929 adalah investasi jangka panjang pada obligasi, dan kombinasi jangka panjang antara aset defensif dan/atau sektor yang kinerjanya jauh di bawah ekspektasi pada bulan-bulan terakhir gelembung," tulis Hartnett dalam catatannya. Kenaikan suku bunga, menurutnya, bisa menjadi faktor yang mengakhiri pesta.

Saham semikonduktor menjadi motor utama reli Mei. AMD melonjak 46 persen dalam sebulan. Micron Technology melesat 88 persen. Di sisi produsen memori asal Asia, Samsung naik 44 persen dan SK Hynix melonjak 81 persen. Lonjakan kolektif saham chip ini mengangkat Nasdaq Composite hingga 25 persen sepanjang April dan Mei, kinerja dua bulan terbaik indeks teknologi itu dalam lebih dari dua dekade. Bukan main.

Tapi ada yang mengganjal. Garis advance-decline, indikator yang membandingkan jumlah saham yang naik versus yang turun, sempat melonjak di akhir Maret lalu sebelum kembali melemah sejak pertengahan April. Analis teknikal Oppenheimer Ari Wald menyebut kondisi ini sebagai sinyal negatif. "Internal telah tertinggal sejak lonjakan awal April," tulisnya dalam riset teknikal pada 23 Mei. BCA Research menambahkan data yang tak kalah menggelisahkan: per 20 Mei, hanya sekitar 55 persen anggota S&P 500 yang diperdagangkan di atas rata-rata pergerakan 200 hari. Lebar penguatan yang sempit, tulis tim strategi BCA yang dipimpin Arthur Budaghyan, "seringkali merupakan tanda kerentanan pasar saham yang mendasarinya."

Sentimen serupa ikut mewarnai pasar Asia. Nikkei dan KOSPI yang sempat menyentuh level rekor belakangan ini mengalami koreksi, sebagian dipicu ketidakpastian geopolitik yang membuat investor memilih memangkas eksposur ke aset berisiko. Kalau data ini bisa dipercaya, pola itu bukan anomali, melainkan cermin retak dari fondasi reli yang memang belum kokoh.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal sehat atau tidaknya konsentrasi reli di saham AI, karena jawabannya sudah cukup jelas. Seberapa lama pasar bisa terus naik di atas fondasi yang kian menyempit, sebelum satu sentimen negatif terhadap sektor AI cukup untuk membalik arah seluruh indeks?