Spotify sedang serius mengubah cara orang menemukan musik. Dua gebrakan terbarunya memperlihatkan ke mana perusahaan ini melaju.
Pembaruan pertama menyentuh Release Radar, playlist mingguan yang selama ini jadi andalan pengguna untuk melacak rilisan terbaru dari artis favorit. Kali ini, Spotify memberi kendali lebih ke tangan pengguna: mereka bisa memilih hingga lima preferensi di bagian atas playlist, mulai dari Discover New Artists untuk yang ingin berkenalan dengan musisi baru, Editors' Picks dari tim kuratorial internal, hingga filter genre seperti Pop, Hip-Hop, Rock, Dance, dan Country. Setelah preferensi dipilih, susunan playlist menyesuaikan secara otomatis. Tampilannya pun ikut diperbarui, desain sampul dan header baru, agaknya supaya tidak terasa seperti fitur lama yang sekadar ditambal.
Release Radar bukan fitur kemarin sore. Playlist ini sudah lama jadi salah satu fitur personal paling ramai dipakai di platform, diperbarui setiap Jumat dengan menggabungkan rilis terbaru dari artis yang diikuti pengguna dan rekomendasi algoritmik berdasarkan kebiasaan mendengarkan. Dengan pembaruan ini, algoritmanya diasah lebih dalam agar hasilnya lebih presisi. Fitur mulai bergulir bertahap ke pengguna Android, iOS, desktop, dan web, jadi wajar kalau belum semua langsung kebagian.
Nah, yang kedua ini lebih bikin penasaran. Spotify tengah menguji asisten AI interaktif yang bisa diajak ngobrol layaknya chatbot. Pengguna bisa mengetik atau berbicara langsung ke aplikasi untuk mencari musik, podcast, bahkan audiobook. Bukan sekadar perintah satu arah: pengguna bisa melakukan percakapan lanjutan, mempersempit pilihan, misalnya minta lagu terbaru dari artis yang belum pernah didengar, atau musik dengan suasana lebih ceria.
Asisten ini juga bisa membahas riwayat aktivitas pendengar. Ingin tahu kapan pertama kali memutar sebuah lagu? Atau genre apa yang paling sering diputar bulan lalu? Spotify mengklaim asisten AI-nya sanggup menjawab itu. Ia bahkan bisa menjelaskan inspirasi di balik sebuah lagu, tanggal rilis album, hingga merekomendasikan artis bergaya musik serupa. Tidak berhenti di situ: pengguna juga bisa menyimpan lagu, menambahkannya ke antrean putar, atau langsung mengikuti akun artis favorit, semuanya lewat percakapan.
Soal dapur pacu teknologinya, Spotify menyebut fitur ini didukung kombinasi AI internal dan model dari beberapa penyedia eksternal, dengan sistem yang memilih teknologi paling sesuai tergantung jenis permintaan. Semacam orkestra model AI, bukan mesin tunggal, kalau data ini bisa dipercaya.
Saat ini asisten AI tersebut masih berstatus beta, terbatas untuk pelanggan Premium berusia 18 tahun ke atas di Amerika Serikat, Irlandia, dan Swedia, hanya di Android dan iPhone. Aksesnya lewat halaman Home dan Now Playing. Selama fase beta, Spotify mengumpulkan masukan pengguna untuk menyempurnakan kemampuannya sebelum digulirkan lebih luas.
Dua langkah ini memperkuat pola yang sudah terlihat beberapa tahun terakhir. Spotify tidak puas sekadar jadi tempat streaming musik. Dengan AI DJ, Daylist, playlist berbasis perintah, hingga integrasi ChatGPT yang sudah lebih dulu hadir, perusahaan ini sedang membangun ekosistem penemuan konten audio yang makin personal dan conversational. Pertanyaannya tinggal satu: seberapa cepat fitur-fitur ini sampai ke pengguna di luar pasar barat?