SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Rebound Senin, Tekanan Jual Langsung Balik Selasa

Bisnis

Rebound Senin, Tekanan Jual Langsung Balik Selasa

Kontrak CPO di Bursa Malaysia Derivatives sempat bangkit hingga 1% pada Senin ditopang kenaikan ekspor dan kebijakan biodiesel B15, namun tekanan jual kembali menghantam harga sawit pada Selasa.

Satu hari rebound, lalu tekanan jual kembali datang.

Itulah ringkasan pergerakan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) dua sesi terakhir. Setelah berhasil bangkit pada Senin (11/5/2026), harga CPO kembali tertekan pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Momentum penguatan itu ternyata rapuh.

Pada penutupan Senin, kontrak berjangka CPO kompak menguat. Kontrak Mei 2026 naik 17 Ringgit Malaysia ke level 4.495 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Juli 2026 terkerek 11 Ringgit Malaysia ke 4.516 Ringgit Malaysia. Kontrak Oktober 2026 menorehkan kenaikan 16 Ringgit Malaysia ke 4.548 Ringgit Malaysia. Dari Tradingview, harga CPO melesat sekitar 1% ke kisaran 4.550 Ringgit Malaysia per ton, menghentikan tren pelemahan beberapa sesi sebelumnya.

Ada tiga katalis yang menopang rebound ini. Harga minyak mentah dunia menguat setelah negosiasi Amerika Serikat dan Iran gagal menemukan titik temu, situasi yang mendongkrak ekspektasi permintaan biodiesel berbasis sawit. Harga minyak nabati di pasar Dalian dan Chicago ikut terkerek, memberi dukungan tambahan. Lalu data ekspor yang cukup menyegarkan: lembaga survei kargo Intertek Testing Services mencatat ekspor minyak sawit Malaysia pada 1-10 Mei naik 8,5% dibanding periode yang sama di bulan April.

Dari sisi kebijakan, pasar turut merespons rencana Malaysia menerapkan mandat biodiesel B15 mulai 1 Juni 2026, naik dari B10 yang berlaku saat ini. Dirancang untuk menekan ketergantungan impor bahan bakar sekaligus mendorong serapan domestik. Bagi pelaku pasar CPO, sinyal permintaan jangka menengah yang positif.

Tapi rebound Senin tidak mulus sepenuhnya. Ada dua batu sandungan.

Data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) untuk April menunjukkan stok minyak sawit naik 1,71% secara bulanan menjadi 2,31 juta ton metrik. Produksi melonjak lebih tajam lagi, 18,37%, ke level 1,63 juta ton. Angka-angka ini, jujur saja, tidak ideal di saat pasar sedang mencari alasan untuk reli lebih jauh.

Yang lebih mengkhawatirkan: impor minyak sawit India amblas 27% secara bulanan pada April ke level terendah dalam setahun terakhir. India pembeli terbesar CPO di dunia. Ketika permintaan dari sana lesu, pasar sulit bergerak bebas ke atas.

Kombinasi dua faktor itulah yang agaknya memicu tekanan jual yang kembali muncul Selasa. Pasar seperti diingatkan bahwa sentimen positif jangka pendek belum cukup untuk mengabaikan fundamental suplai yang sedang meningkat dan demand yang masih gamang. Bak gayung bersambut, tekanan datang tepat saat euforia belum sepenuhnya terbentuk.

Bagi investor yang terekspos di saham-saham emiten sawit, volatilitas dua hari ini cermin yang layak ditatap. Rebound satu sesi tanpa konfirmasi lanjutan, entah kebetulan atau tidak, selalu berakhir menjebak yang terburu-buru masuk.