SELASA, 20 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  RDG Juli BI: Naik 25 Bps atau Tahan? Ekonom Trimeg...

Ekonomi

RDG Juli BI: Naik 25 Bps atau Tahan? Ekonom Trimegah Pilih Opsi Pertama

Bank Indonesia sedang menggelar RDG bulanan di tengah perdebatan analis soal arah BI Rate, apakah akan naik 25 bps ke 6% atau ditahan di 5,75%.

Ekonom Trimegah Menilai BI Rate Perlu Naik 25 Basis Poin | tempo.co

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung 20-21 Juli 2026 membelah kalangan ekonom jadi dua kubu: satu kelompok memperkirakan suku bunga acuan bakal naik lagi 25 basis poin ke level 6%, kelompok lain meyakini BI cukup berdiam di 5,75%.

Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, ada di kubu pertama. Argumennya bukan sekadar soal kondisi pasar hari ini. "Menurut kami, Bank Indonesia masih perlu melanjutkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada RDG Juli," kata Fakhrul lewat pernyataan tertulis Senin, 20 Juli 2026.

Kredibilitas, kata Fakhrul, dibangun bukan dari sinyal semata, tapi dari konsistensi. BI sebelumnya sudah menyampaikan pendekatan pre-emptive. Kalau tiba-tiba menahan laju setelah serangkaian sinyal hawkish, pasar bisa membacanya sebagai inkonsistensi, dan kepercayaan investor susah dibangun kembali begitu retak.

Angka yang ia sebut cukup mengejutkan: Indonesia diperkirakan masih butuh tambahan arus modal sekitar 11 miliar dolar AS hingga akhir tahun. Tujuannya menjaga keseimbangan neraca pembayaran sekaligus memperkuat stabilitas rupiah. Selisih imbal hasil aset domestik, dalam konteks itu, harus tetap kompetitif.

Memang, gambaran pasar awal pekan ini terasa lebih tenang. Rupiah tercatat di 17.977 per dolar AS, membaik dari posisi di atas 18.000 pekan sebelumnya. IHSG dibuka menguat 21,95 poin ke 6.197, menjadikan bursa Indonesia salah satu yang paling kokoh di kawasan dalam sepekan terakhir. S&P Global pun mempertahankan sovereign rating Indonesia di BBB dengan prospek stabil, bak gayung bersambut bagi mereka yang ingin membaca tren ini sebagai pembenaran untuk menahan rate.

Fakhrul tidak tergoda pembacaan itu. "Pasar memang menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan, namun kebutuhan Indonesia untuk menarik arus modal asing tahun ini masih sangat besar. Karena itu, momentum positif ini justru perlu diperkuat melalui kebijakan yang konsisten dan kredibel," ucapnya.

Masuk akal, kalau melihat trajektori BI Rate belakangan ini. Bertahan di 4,75% sejak September 2025, lalu dalam tempo kurang dari dua bulan BI bergerak agresif: naik 50 bps pada 20 Mei menjadi 5,25%, kemudian naik lagi 25 bps di luar jadwal pada 9 Juni menjadi 5,50%, dan 25 bps lagi pada RDG 18 Juni menjadi 5,75%. Seratus basis poin dalam waktu kurang dari dua bulan. Kencang.

Kalau RDG Juli ini berakhir dengan kenaikan 25 bps, BI Rate menyentuh 6%, level yang agaknya belum pernah dicapai dalam beberapa tahun terakhir, dan akan menjadi sinyal bahwa bank sentral memang serius mendahulukan stabilitas eksternal ketimbang dorongan pertumbuhan jangka pendek. Hasil rapat dijadwalkan diumumkan besok, 21 Juli 2026.