Pasar menunggu sinyal dari Gedung BI pekan ini. Para ekonom sendiri belum sepakat soal arahnya.
Satu kubu percaya Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan 25 basispoin menjadi 6% dalam Rapat Dewan Gubernur Juli 2026. Kubu lain menilai kenaikan kumulatif 100 bps sepanjang Mei dan Juni sudah cukup, dan BI sebaiknya menahan diri dulu.
Irman Faiz, Kepala Ekonom Bank Danamon Indonesia, masuk kelompok pertama. Ia melihat dua tekanan yang sulit diabaikan: inflasi utama yang mendekati batas atas kisaran target BI di 3,5%, dan rupiah yang terus menanggung beban depresiasi. "Kami memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 6% pada pertemuan Juli, dengan terminal rate berpotensi mencapai 6,25%," kata Irman dalam risetnya, Senin (20/7/2026).
Yang ia soroti bukan inflasi permintaan biasa. Indonesia, kata Irman, sedang bergulat dengan inflasi sisi pasokan: PMI manufaktur terus terpuruk, permintaan melemah, tapi produsen sudah mulai meneruskan kenaikan biaya bahan baku, transportasi, dan energi ke harga jual. Situasi pelik. Menaikkan suku bunga dalam kondisi ini bisa memperlambat ekonomi tanpa benar-benar mencabut akar masalah.
Kalkulasi Faisal Rachman berbeda. Head of Macroeconomic and Financial Market Research Bank Permata itu menilai kenaikan kumulatif 100 bps yang sudah dilakukan BI pada dasarnya sudah bersifat antisipatif terhadap potensi kenaikan Fed Funds Rate 25 bps pada Oktober 2026. Dengan kata lain, BI sudah ahead of the curve. Memaksakan kenaikan lagi justru berisiko berlebihan. "Dalam skenario baseline, kami masih memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI-rate di level 5,75% hingga akhir 2026. Namun demikian, kami tetap membuka kemungkinan adanya pengetatan moneter lanjutan apabila kondisi global maupun domestik memburuk lebih jauh," jelasnya.
Beberapa faktor memang memperkuat argumen kubu tahan. Rupiah, yang sempat jadi kekhawatiran utama, sudah kembali bergerak di bawah Rp18.000 per dolar AS akhir pekan lalu, sehingga tekanan imported inflation mulai mereda. S&P baru mempertahankan peringkat utang Indonesia di level investment grade dengan outlook stabil, sinyal positif bagi aliran modal asing. Defisit fiskal semester I-2026 pun masih dalam kendali.
Gambaran eksternal, campur aduk. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara AS dan Iran mendorong harga minyak naik dan memunculkan kekhawatiran inflasi energi global. Tapi data inflasi AS yang keluar lebih rendah dari ekspektasi memangkas proyeksi agresivitas The Fed. Berdasarkan CME FedWatch terbaru, pelaku pasar memberi probabilitas tinggi bahwa The Fed baru akan menaikkan FFR 25 bps ke level 4,00% pada Oktober.
Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri, sependapat dengan kubu tahan. "BI-Rate akan stay ya," katanya singkat. Rupiah stabil. Inflasi terkendali. Fiskal relatif terjaga. Tiga penopang itu cukup, menurut Andry, untuk menahan langkah BI sekarang, meski ia memberi ruang kenaikan 25 bps hingga akhir tahun jika betul-betul dibutuhkan.
Ada satu hal yang agaknya luput dari perdebatan taktis ini. Risiko overtightening yang disinggung Faisal bukan sekadar skenario tepi, entah kebetulan atau tidak, ia menyentuh masalah yang lebih struktural: tantangan terbesar bukan di likuiditas rupiah, melainkan di likuiditas valuta asing. Kenaikan suku bunga sudah cukup memperkuat ketahanan eksternal, tapi arus modal asing masih enggan masuk optimal selama ketidakpastian global belum reda. Menaikkan bunga lagi dalam kondisi itu, kalau data ini bisa dipercaya, bak menambah dosis obat yang sudah cukup kerjanya.
RDG Juli 2026 bisa jadi momen BI memilih salah satu dari dua narasi ini. Yang pasti, pilihan yang diambil akan sangat menentukan berapa lama lagi sektor riil harus menanggung beban bunga yang kian berat.