SENIN, 19 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  RAPBN 2027 Bidik 3,49 Juta Lapangan Kerja, Pertumb...

Ekonomi

RAPBN 2027 Bidik 3,49 Juta Lapangan Kerja, Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen

DPR dan pemerintah sepakat atas asumsi dasar dan sasaran pembangunan RAPBN 2027, termasuk target penciptaan hingga 3,49 juta lapangan kerja baru dengan proporsi formal 40,81 persen.

Indonesia's Wealth Must Be Felt by the People. President Prabowo Subianto's 2027 State Budget (RAPBN) address sets out a clear principle: economic success should not be measured solely by macroecono

Pemerintah dan Komisi XI DPR RI mencapai kesepakatan atas asumsi dasar ekonomi makro serta sasaran pembangunan RAPBN 2027, Rabu (2/9/2026), dengan memasang target penciptaan 2,57 juta hingga 3,49 juta lapangan kerja baru sepanjang tahun depan.

Angka yang tidak kecil. Dari total lapangan kerja yang dibidik, proporsi pekerjaan formal ditetapkan 40,81 persen. Ini sinyal bahwa pemerintah sadar kualitas penyerapan tenaga kerja tidak kalah penting dari kuantitasnya. Tingkat pengangguran terbuka ditargetkan turun ke kisaran 4,30 hingga 4,87 persen.

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyebut penciptaan tenaga kerja formal sebagai bagian dari agenda transformasi ekonomi yang lebih besar. Dalam rapat kerja itu, Misbakhun menegaskan pemerintah akan mengupayakan peningkatan produktivitas, penguatan investasi, penurunan ICOR, hilirisasi, serta industrialisasi sebagai instrumen utama untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi yang "lebih tinggi dan inklusif" sekaligus menciptakan lapangan kerja formal.

Mesin penggeraknya sudah ditetapkan. Investasi alias pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dibidik tumbuh 7 persen, konsumsi rumah tangga 5,4 persen, konsumsi pemerintah 5,6 persen. Ekspor barang dan jasa ditargetkan menguat 7,5 persen, sementara impor diproyeksikan naik lebih agresif: 8,7 persen. Kalau data ini bisa dipercaya, selisih itu agaknya mencerminkan kebutuhan bahan baku industri yang terus meningkat seiring target hilirisasi.

Dari sisi sektoral, jasa lainnya paling ngebut dengan target pertumbuhan 11,1 persen. Akomodasi dan makan minum dibidik 9,4 persen, transportasi dan pergudangan 8,9 persen, informasi dan komunikasi 8,1 persen. Industri pengolahan, tulang punggung program hilirisasi, ditargetkan tumbuh 6,1 persen. Perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan motor 6,5 persen, konstruksi 5,6 persen, pertanian, kehutanan, serta perikanan 5,4 persen. Semua harus bermuara pada satu angka: pertumbuhan nasional 6 persen.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan apresiasi atas proses pembahasan yang berjalan "dinamis dan konstruktif". "Kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pimpinan dan seluruh anggota Komisi XI DPR RI atas dukungan yang solid dalam serangkaian pembahasan asumsi dasar ekonomi makro RAPBN Tahun 2027 yang berjalan dinamis dan konstruktif, sehingga menghasilkan komitmen yang kuat untuk mendorong arah kebijakan fiskal tahun 2027 yang semakin efektif untuk akselerasi pertumbuhan dan kesejahteraan," ujar Purbaya. Ia menegaskan seluruh masukan, pandangan, saran, serta kesepakatan yang dicapai hari itu akan dijadikan pedoman dalam penyempurnaan arsitektur RAPBN 2027.

6 hingga 6,5 persen. Segitu kisaran kemiskinan yang dibidik turun tahun depan, sementara kemiskinan ekstrem ditargetkan mendekati nol di rentang 0 hingga 0,5 persen. Rasio Gini dipatok 0,360 hingga 0,365. GNI per kapita ditargetkan mencapai 5.800 hingga 5.840 dolar AS, atau sekitar Rp 98,54 juta hingga Rp 99,22 juta per kepala.

Pemerintah juga memasang target Indeks Modal Manusia 0,575, Indeks Kesejahteraan Petani 0,838, Nilai Tukar Petani 126 hingga 128, dan Nilai Tukar Nelayan 106 hingga 110. Deretan angka ini bisa jadi terasa abstrak bagi investor. Tapi justru di situ letak pentingnya: kualitas sumber daya manusia dan daya beli petani-nelayan adalah sinyal dini konsumsi domestik jangka menengah.

Pertanyaannya tinggal satu: dengan tekanan global yang masih belum menentu, seberapa realistis semua angka ini bisa dicapai?