Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal punya amunisi baru untuk menarik modal asing ke Bumi Gora, dan kali ini bidikannya mengarah langsung ke Timur Tengah. Duta Besar Qatar untuk Indonesia, Sultan bin Mubarak Saad Al-Dosari, hadir langsung ke Mataram pada Jumat (28/8), membuka diskusi yang berlangsung hampir lima jam total: sekitar dua jam sesi formal di Kantor Gubernur, ditambah hampir tiga jam obrolan informal malam sebelumnya.
Satu proyek yang langsung masuk radar adalah pembangunan bypass port to port Lembar-Kayangan, koridor darat sepanjang 25 kilometer yang menghubungkan pelabuhan di Lombok Barat dengan Lombok Timur. Nilai konstruksinya tidak kecil: Rp3,5 triliun. Rinciannya, bypass segmen Sengkol-Pringgabaya menelan Rp2,8 triliun, sementara perbaikan bypass menuju Bandara Internasional Lombok butuh sekitar Rp700 miliar.
Iqbal memaparkan proyek ini dengan cara yang agaknya berhasil menarik perhatian. "Kami punya rute port to port. Jaraknya tepat 1 kilometer, langsung menuju garis pantai. Jadi, tidak perlu banyak melakukan modifikasi, cukup mengikuti jalan yang sudah ada," jelasnya. Kalau terealisasi, waktu tempuh Lembar-Kayangan yang selama ini bisa memakan tiga hingga empat jam dapat dipangkas menjadi sekitar satu jam 45 menit. Efek dominonya bagi logistik dan pariwisata lintas Bali-Lombok-Sumbawa bisa lumayan besar.
Jadwal proyeknya sudah disiapkan. Tahun 2026 difokuskan untuk detailed engineering design, AMDAL, dan pembebasan lahan. Konstruksi ditargetkan mulai awal 2027 dan rampung paling lambat 2028.
Tapi bypass bukan satu-satunya yang ditawarkan. Iqbal mendorong masuknya Qatar Fund, Qatar Charity, hingga Qatar Airways ke NTB, termasuk penjajakan rute penerbangan langsung Lombok-Qatar. Isu konektivitas udara ini termasuk topik yang dibahas cukup serius, mengingat wisatawan asal Timur Tengah selama ini harus transit dua kali untuk sampai ke Lombok.
Kunjungan Dubes Al-Dosari juga menyentuh isu ketenagakerjaan dan pendidikan vokasi. Pemprov NTB mendorong penempatan Pekerja Migran Indonesia asal NTB yang terampil di Qatar, sekaligus membuka peluang penyerapan lulusan SMK untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja profesional di sana. Ekosistem Qatar yang sedang ekspansif pasca-Piala Dunia 2022 agaknya membuat tawaran ini tidak sepenuhnya mengada-ada.
Sesi peninjauan ke Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika turut masuk agenda. Al-Dosari berdialog langsung dengan ITDC selaku pengelola kawasan, dan kesan yang ditangkap positif. "Proyek ini sangat berpotensi bagi Negara Qatar untuk menanamkan investasi di Mandalika," kata Al-Dosari. Ia juga menyebut proyek-proyek yang tengah berjalan di kawasan itu akan memberi dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat Lombok, serta kemajuan ekonomi Indonesia secara umum.
Latar belakang keduanya agaknya turut mencairkan suasana. Iqbal sebelumnya menjabat Duta Besar Indonesia untuk Turki, sementara Al-Dosari baru saja menyerahkan surat kepercayaan di Jakarta pada Juli lalu. Kedekatan latar belakang diplomatik itu bisa jadi yang membuat diskusi lima jam terasa lebih cair dari sekadar kunjungan protokoler biasa.
"Beliau terkaget-kaget begitu tahu begitu banyak potensi yang kita miliki," ungkap Iqbal. Hubungan emosional Indonesia-Qatar, ia sebut, jadi modal terbesar dalam menarik minat investasi ini.
Bukan kunjungan terakhir. Al-Dosari menegaskan ia akan kembali ke NTB untuk mematangkan skema investasi yang sudah dijajaki. Pertanyaannya, apakah komitmen itu berujung pada financial close, atau sekadar goodwill yang menguap setelah pesawat meninggalkan BIL.