Pertumbuhan uang primer Indonesia nyaris mandek sepanjang April hingga Agustus 2025. KSSK bilang likuiditas ample. Dua klaim itu tidak bisa sama-sama benar.
Kontradiksi itulah yang mendorong Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara keras di hadapan Komisi XI DPR RI, Rabu (15/7/2026), dalam rapat kerja laporan Kemenkeu 2025 audited. Bukan kritik dari luar, melainkan dari seseorang yang duduk di dalam KSSK sendiri.
"Walaupun banyak bank yang bilang likuiditas ample, kalau bapak tanya ke LPS, BI, OJK, semua bilang ample tapi data mereka salah semua. Saya di LPS cukup lama, saya coba cari indikator yang pas," ujar Purbaya dalam rapat tersebut.
Selama menjabat di LPS, Purbaya aktif memburu indikator yang lebih sahih. Yang ia temukan justru anomali: interbank rate naik kencang, deposito ikut melonjak, tapi semua regulator serentak mengklaim situasi terkendali. Sinyal-sinyal itu, kalau data ini bisa dipercaya, seharusnya sudah membunyikan alarm jauh lebih awal.
Indikator yang ia maksud adalah base money, atau M0, uang primer yang beredar dalam sistem. Milton Friedman, nama yang Purbaya sebut sebagai referensi, selama puluhan tahun menyebut M0 sebagai sinyal paling jujur soal kondisi moneter riil. Bank-bank sentral dunia, kata Purbaya, masih berpegang pada prinsip itu. KSSK, rupanya, tidak.
Analogi SVB bukan sekadar pemanis argumen. "Bank sentral AS pernah melakukan kesalahan yang sama, dia enggak monitor M0. Suatu saat M0 ditarik ke bawah minus 15,3 persen. Apa yang terjadi? Maret 2023, ada kasus Silicon Valley Bank. Dampaknya itu," jelas Purbaya. Setelah kolaps SVB memicu kepanikan perbankan AS, The Fed baru bergerak menginjeksi likuiditas. M0 kembali positif, ekonomi AS mulai bernapas.
Indonesia, kata Purbaya, sempat berjalan di tepi jurang yang sama. Ketika pemerintah menempatkan SAL senilai Rp200 triliun ke Bank Himbara pada September 2025, pertumbuhan M0 langsung melejit dari 0 persen ke 11 persen, bahkan mendekati 13 persen. Pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 pun tembus 5,39 persen. "Itu yang membuat ekonomi kita tumbuh," kata Purbaya, angka yang sulit diabaikan meski hubungan sebab-akibatnya layak dicermati lebih jauh.
Yang membuat pernyataan ini menggigit bukan sekadar isinya. Purbaya bukan pengamat yang melempar batu dari kejauhan. Ia anggota KSSK. Dan ketika ia bilang "ada kesalahan data atau indikator yang kita pakai oleh KSSK selama ini" lalu menambahkan "saya sudah minta tim KSSK perbaiki itu, tapi rupanya belum dapat", yang terdengar bukan koreksi teknis biasa. Itu frustrasi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama lagi?