RABU, 7 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  PTPN III Cetak Laba Rp6,39 Triliun, DPR Ingatkan J...

Ekonomi

PTPN III Cetak Laba Rp6,39 Triliun, DPR Ingatkan Jangan Terlena Harga Komoditas

Laba konsolidasi PTPN III melonjak 81,3 persen menjadi Rp6,39 triliun di 2025, tapi DPR mengingatkan manajemen untuk memisahkan mana yang murni efisiensi dan mana yang sekadar berkah harga komoditas.

PTPN III laporkan laba konsolidasi Rp6,39 triliun selama 2025

Laba konsolidasi PT Perkebunan Nusantara III (Persero) melesat 81,3 persen menjadi Rp6,39 triliun sepanjang 2025. Angka yang cukup untuk membuat siapa pun di jajaran holding perkebunan pelat merah itu merasa lega, setelah bertahun-tahun bergulat dengan restrukturisasi utang dan konsolidasi subholding.

Tapi di hadapan Komisi VI DPR RI, Senin (6/7/2026), perasaan lega itu agaknya tidak cukup untuk menutup pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa besar laba itu benar-benar cerminan perbaikan kinerja, dan seberapa besar sekadar efek ekor dari kenaikan harga komoditas global?

Plt. Direktur Utama PTPN III Iswahyudi mengakui lonjakan laba ini ditopang kuat oleh perbaikan harga jual komoditas utama. Harga CPO tercatat Rp14.222 per kilogram sepanjang 2025, 21 persen di atas asumsi RKAP yang dipatok Rp11.749 per kg. Produk turunannya, PKO, bahkan 98 persen melampaui target RKAP sebesar Rp25.071 per kg. Dari sisi bauran pendapatan, kelapa sawit menyumbang 75,06 persen dari total penjualan, gula 13 persen, karet 7,1 persen, dan teh 1,4 persen. Totalnya, 97 persen kontribusi laba datang dari empat komoditas ini.

Dari sisi produktivitas pun ada kemajuan nyata. Produksi TBS mencapai 12,3 juta ton, naik 3,9 persen dari 2024, dengan output CPO 2,7 juta ton atau tumbuh 4 persen. Produktivitas lahan tercatat 4,8 ton CPO per hektare. Tidak main-main.

Anggota Komisi VI DPR RI Asep Wahyuwijaya tidak mau berhenti di situ. Legislator Partai NasDem dari Dapil Jawa Barat V ini mendorong manajemen untuk men-stress test proyeksi laba dengan skenario harga komoditas yang terkoreksi dari level saat ini. "PTPN sekarang sedang mendapat berkah dari kenaikan harga komoditas, sehingga terjadi lonjakan laba. Tetapi pertanyaannya, sejauh mana laba itu juga ditopang oleh efisiensi. Ini penting untuk di-exercises, agar kita bisa melihat secara utuh apakah kenaikan laba ini benar-benar mencerminkan perbaikan kinerja perusahaan," kata Asep dalam rapat dengar pendapat di Kompleks Parlemen Senayan.

Kritik Asep bukan tanpa alasan. Di balik laba konsolidasi yang impresif, Sugar Group Nusantara (SGN) sebagai subholding gula masih menanggung kerugian Rp646 miliar. Kondisi ini, menurut Asep, berpotensi tertutupi oleh kinerja positif segmen sawit di level holding, sehingga luput dari perhatian publik maupun pemegang saham. Ia mendorong manajemen menjelaskan secara terbuka mengapa investasi di lini gula tetap dilanjutkan meski merugi.

Manajemen PTPN III sendiri mengakui masih ada pekerjaan rumah. Produksi karet secara total masih lebih rendah 1,8 persen dibanding 2024, meskipun produktivitas per hektare membaik ke 1.077 kg. Untuk 2026, Iswahyudi menargetkan CPO 2,8 juta ton, produksi gula naik 25 persen ke 600 ribu ton, dan total pendapatan tumbuh 40 persen menjadi Rp73,6 triliun dari realisasi Rp59 triliun di 2025.

Target-target itu ambisius. Entah kebetulan atau tidak, disampaikan tepat saat harga komoditas sedang berpihak. Yang jadi pertanyaan buat investor dan pemangku kepentingan: bagaimana PTPN III kalau angin tailwind itu berbalik?