Ketidakpastian geopolitik yang berlarut-larut bukan cuma bikin kepala ekonom pusing. Bagi investor ritel Indonesia, perubahannya terasa lebih personal dari itu, mendorong banyak orang untuk benar-benar duduk dan mengevaluasi ulang ke mana uang mereka selama ini pergi.
Pergeseran ini terbaca dari cara orang memilih produk investasi. Minat terhadap instrumen yang risikonya lebih terukur tumbuh, dan pertimbangan soal profil risiko pribadi bukan lagi sekadar centang-centangan di formulir pembukaan rekening. Certified Financial Planner Lolita Setyawati dari Amartha Financial mengamati pergeseran ini dari percakapan sehari-hari dengan nasabah dan publik.
Fondasi dulu, baru investasi. Begitu kira-kira prinsip yang ia tekankan. Sebelum masuk ke instrumen apapun, Lolita bilang kondisi keuangan dasar harus sudah beres: cash flow sehat, cicilan terkendali, dan anggaran darurat tersedia. "Anggaran darurat tetap perlu diprioritaskan. Idealnya mencapai enam kali pengeluaran bulanan. Namun jika belum memungkinkan, setidaknya mulai dari dua hingga tiga kali pengeluaran bulanan," jelasnya.
Satu prinsip yang kerap ia ulang adalah soal "uang dingin", dana yang memang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat untuk kebutuhan pokok. Bukan anggaran darurat, bukan pinjaman. Terdengar klise, memang. Tapi entah kebetulan atau tidak, nasihat ini selalu kembali relevan setiap kali volatilitas pasar meningkat dan FOMO mulai menyerang.
Masalah klasiknya: banyak orang masih terjun ke instrumen investasi semata karena melihat orang lain cuan, tanpa benar-benar paham cara kerja produknya. Lolita menyebut dua prinsip sederhana yang sering diabaikan, legal dan logis. Legal artinya produk berizin dan diawasi otoritas terkait. Logis artinya investor paham ke mana dananya mengalir dan dari mana potensi imbal hasilnya berasal. "Karena itu, ketika memilih investasi, sebaiknya tidak hanya melihat angka return, tetapi juga mempertimbangkan tujuan dan rencana keuangan masing-masing investor," tambahnya.
Pertanyaannya, instrumen apa yang cukup logis untuk diverifikasi investor awam sekalipun?
Amartha menjawab dengan Amartha Prosper, salah satunya lewat skema Grassroots Growth Series (GGS). Produk ini memposisikan diri sebagai alternatif investasi yang menghubungkan investor langsung dengan pembiayaan produktif UMKM perempuan di perdesaan. Ada aset riil di baliknya, bukan sekadar narasi dampak sosial yang sering terasa hampa di brosur produk lain.
Chief Funding Officer Amartha Julie Fauzie menyebut proposisi ini bak gayung bersambut dengan kebutuhan investor yang makin melek diversifikasi. "Melalui Amartha Prosper, masyarakat dapat berinvestasi sekaligus mendukung pembiayaan sektor riil, khususnya pembiayaan produktif UMKM perempuan di perdesaan. Investor bukan hanya memperoleh potensi imbal hasil, melainkan juga investasi yang disalurkan dapat memberi dampak ekonomi yang lebih luas dan inklusif," kata Julie.
Amartha bukan pemain baru di segmen ini. Lebih dari 16 tahun perusahaan ini menyalurkan modal usaha kepada lebih dari 4 juta UMKM perempuan di perdesaan, dengan total permodalan menembus Rp47 triliun. Angka yang tidak kecil, terutama untuk segmen yang kerap luput dari radar perbankan konvensional.
Minat terhadap Amartha Prosper sejak diluncurkan Januari 2026 diklaim tinggi, meski angka spesifiknya belum dipublikasikan secara terbuka. Setidaknya itu klaim manajemen. Yang bisa dicermati adalah momentumnya: investor ritel sedang lapar alternatif, dan produk berbasis sektor riil agaknya mengisi celah yang selama ini kosong.
Sudah seberapa dalam kamu memahami instrumen yang kamu pegang sekarang?