Minyak goreng mahal. Plastik mahal. Kedelai juga.
Tiga kata itu terus berputar di kepala Mamik Supriyatin, pemilik usaha tahu goreng di Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Perempuan 42 tahun ini mengaku pusing bukan main menghadapi lonjakan harga bahan baku yang datang nyaris bersamaan.
"Sekarang apa-apa mahal sekali, bahan baku harganya naik semua. Seperti minyak goreng, tahu, sampai plastik bungkus juga mahal," katanya saat ditemui detikJatim, Kamis (9/4/2026).
Bukan cuma satu komponen. Minyak goreng sebagai kebutuhan pokok penggorengan sudah pasti kena. Kedelai, bahan dasar tahunya, ikut merangkak naik. Plastik bungkus yang jarang dihitung konsumen pun turut membebani. Serempak.
Mau tidak mau, Mamik menaikkan harga jual. Pilihan lainnya? Gulung tikar. Ia memilih bertahan, meski harus memutar otak supaya usahanya tidak kolaps. Bagi produsen rumahan sekelas Mamik, kenaikan harga bahan baku terasa langsung di kantong karena tidak ada ruang untuk menyerap selisih biaya.
Perkara seperti ini memang klasik di level usaha kecil. Margin tipis, daya tawar terhadap pemasok nyaris nol. Kalau harga naik, ya pasrah atau ikut naikkan harga. Sesederhana itu.