Produksi minyak sawit nasional pada kuartal III 2026 diproyeksikan turun cukup dalam, dari 14,1 juta ton pada periode yang sama tahun lalu menjadi hanya 11,1 juta ton, angka yang berada di bawah kisaran historis lima tahun terakhir yang umumnya berkisar 12 juta hingga 14 juta ton per kuartal.
Proyeksi ini datang dari Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) dalam laporan Outlook Industri Sawit Indonesia Q3 2026 yang dirilis belum lama ini. Penurunan terbesar diperkirakan terjadi pada Juli dan September, sementara Agustus relatif lebih stabil. Bukan kebetulan, Juli adalah bulan pertama implementasi mandatori biodiesel B50 yang berlaku mulai 1 Juli 2026.
Dua tekanan berjalan bersamaan, dari arah yang berlawanan. Di hulu, produksi terjepit anomali iklim. Di hilir, konsumsi domestik justru meledak.
Dari sisi cuaca, IPOSS mencatat kombinasi ENSO positif dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif sebagai biang kerok utama. Fase positif IOD membuat suhu permukaan laut di sekitar Indonesia bagian barat lebih dingin dari normal, yang pada gilirannya menekan pembentukan awan hujan dan memicu kekeringan di sejumlah wilayah. Di awal tahun, banjir di Aceh dan Sumatera Utara sempat mengurangi area panen, sebelum giliran El Nino mengambil alih dengan tren kering berkepanjangan.
Yang membuat proyeksi ini agak berbeda dari sekadar laporan cuaca biasa adalah pendekatan IPOSS yang memasukkan lag fisiologis tanaman sawit: jeda waktu antara tekanan iklim dengan dampak nyata di volume panen. Kekeringan yang terjadi beberapa bulan lalu tidak langsung memangkas produksi hari ini, melainkan terlebih dahulu memengaruhi fase pembentukan bunga dan buah. Artinya, dampak kekeringan yang melanda semester I baru benar-benar terasa pada kuartal III. Bak gayung bersambut yang buruk, persoalan cuaca dan lonjakan permintaan domestik datang di waktu yang sama.
Gambarnya justru berbalik di sisi konsumsi. IPOSS memperkirakan kebutuhan minyak sawit dalam negeri pada kuartal III 2026 mencapai 7,2 juta ton, naik 12,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, ketika konsumsi tercatat 6,3 juta ton. Kenaikan tertinggi dalam lima tahun terakhir. Hampir seluruhnya ditopang oleh kebutuhan biodiesel yang diperkirakan menyerap 4,25 juta ton, atau hampir 60 persen dari total serapan domestik.
Transisi dari B40 ke B50 secara struktural menggeser alokasi CPO yang sebelumnya bisa mengalir ke pasar ekspor, kini harus diprioritaskan untuk memenuhi mandat energi dalam negeri. Bukan kebijakan yang salah, tapi konsekuensinya terhadap neraca pasokan memang harus dikelola dengan cermat.
Ekspor pun kena tampar langsung. IPOSS memproyeksikan pengiriman produk sawit kuartal III 2026 hanya sekitar 4,3 juta ton, dibandingkan 8,3 juta ton pada kuartal III 2025. Penurunan lebih dari 48 persen ini bukan cerminan lemahnya permintaan global, melainkan konsekuensi dari ruang pasok dalam negeri yang semakin sempit.
Stok nasional, yang sempat menanjak ke sekitar 1,5 juta ton pada kuartal II, diperkirakan kembali tergerus ke 1,1 juta ton pada kuartal III. Level ini, menurut IPOSS, masih lebih rendah dibandingkan rata-rata stok periode 2024-2025.
Secara kumulatif hingga akhir September 2026, produksi nasional diperkirakan mencapai 37,1 juta ton, sedikit di bawah realisasi 38,08 juta ton pada periode yang sama tahun 2025. Angka kumulatif memang masih dalam rentang historis. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana distribusi bulanannya, dan di situlah kuartal III menjadi titik paling kritis tahun ini.
IPOSS menegaskan penurunan ini bukan tanda pelemahan struktural industri sawit nasional, melainkan redistribusi produksi akibat faktor iklim musiman. Setidaknya itu klaim lembaga tersebut, dan angkanya masih perlu dibuktikan oleh data produksi bulanan yang akan masuk sepanjang Juli-September. Kalau realisasinya meleset lebih jauh dari proyeksi, neraca yang sudah ketat ini bisa lebih cepat terasa di harga CPO domestik maupun di sisi daya saing ekspor.