Produksi padi nasional Januari hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai 38,11 juta ton gabah kering giling (GKG), turun 0,34% dibanding periode yang sama tahun lalu. Badan Pusat Statistik merilis proyeksi ini seiring tekanan musiman yang mulai terasa sejak pertengahan kuartal kedua.
April jadi bulan paling berat. Produksi padi bulan itu tercatat hanya 7,63 juta ton GKG, amblas 16,03% dari April 2025 yang membukukan 9,09 juta ton. Hampir seperlima produksi hilang dalam satu bulan. Angka yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menyebut pelemahan ini sejalan dengan menurunnya hasil panen April sekaligus berkurangnya potensi produksi sepanjang Mei hingga Juli. Tekanannya, dengan kata lain, bukan hanya soal angka yang sudah terjadi, masalah ini bersambung ke beberapa bulan ke muka.
Satu angka agak meredakan kekhawatiran itu. Potensi produksi beras Juli 2026 masih diperkirakan menembus 7,92 juta ton. Meski tren keseluruhan menyusut, panen di ujung periode proyeksi ternyata masih punya tenaga. Agaknya pergeseran pola tanam atau pemulihan curah hujan di sentra produksi utama ikut mendorong angka ini, kalau data ini bisa dipercaya.
Sepanjang semester pertama hingga Juli, gambarannya memang tidak secerah tahun lalu. Pergeseran musim panen, anomali cuaca, dan kemungkinan berkurangnya luas tanam pada awal tahun sepertinya menekan kapasitas produksi secara bersamaan. Tiga faktor sekaligus.
Bagi pelaku pasar komoditas dan importir beras, data ini patut dicermati lebih serius dari sekadar angka persentase. Penurunan agregat 0,34% memang terdengar kecil. Tapi kalau koreksi April yang mencapai 16% berlanjut ke Mei dan Juni sebelum pulih di Juli, kesenjangan pasokan di tengah tahun bisa lebih terasa di lapangan ketimbang yang terbaca dari angka rata-ratanya. Pertanyaannya: seberapa dalam lubang itu sebelum Juli menutupnya?