RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Produksi Gula RI Tembus 2,67 Juta Ton, tapi Konsum...

Ekonomi

Produksi Gula RI Tembus 2,67 Juta Ton, tapi Konsumsi Rumah Tangga Justru Menyusut

BPS mencatat produksi gula nasional naik konsisten tiga tahun berturut-turut, sementara konsumsi rumah tangga justru menyusut, cermin pergeseran pola makan masyarakat ke arah lebih sehat.

Produksi gula nasional pada 2025 mencapai 2,67 juta ton. Naik dari 2,47 juta ton di 2024 dan 2,23 juta ton setahun sebelumnya. Tiga tahun berturut-turut, grafik produksi terus menanjak. Tapi di ujung rantai konsumsi, ceritanya lain sama sekali.

Konsumsi gula rumah tangga justru tergerus ke sekitar 1,46 juta ton, dengan konsumsi per kapita turun menjadi 5,15 kilogram per orang per tahun. Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budi Utomo Harmadi menyampaikan temuan ini dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta. "Yang menarik, konsumsi gula kita cenderung turun dari waktu ke waktu termasuk konsumsi per kapitanya," kata Sonny.

Pemicu kenaikan produksi cukup gamblang. Luas panen tebu melompat dari 521.000 hektar pada 2024 menjadi 563.000 hektar di 2025. Sentra panennya terkonsentrasi di kantong-kantong lama: Jawa Timur, Lampung, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat. Distribusi gula kristal putih mengikuti sebaran yang sama persis.

Bukan angka kecil.

Yang lebih menarik justru sisi konsumsinya, karena agaknya ada yang bergeser di kebiasaan makan orang Indonesia. BPS menduga penurunan ini bukan sekadar efisiensi belanja rumah tangga. Ada dua faktor yang disebut: meningkatnya kesadaran soal pola hidup sehat, dan pergeseran konsumsi dari gula curah ke makanan jadi yang diproduksi industri maupun sektor jasa. Artinya, orang belum tentu mengonsumsi gula lebih sedikit secara total. Mereka hanya tidak membelinya sendiri dalam bentuk gula pasir.

Sonny memang tidak merinci angka konsumsi rumah tangga untuk dua atau tiga tahun ke belakang secara spesifik, tapi ia menegaskan tren penurunan itu nyata. Pola serupa terjadi pada komoditas lain yang bernasib mirip, termasuk garam.

Bagi pelaku industri gula dan pemegang saham emiten sektor ini, sinyal produksi yang terus naik jelas positif untuk ketahanan pasokan. Tapi kalau serapan domestik rumah tangga terus menyusut sementara konsumsi dari industri makanan dan minuman belum terpetakan jelas, pertanyaannya sederhana: gula sebanyak itu akhirnya lari ke mana?